Pendidikan Minus Visi, Berorientasi Industri

Oleh : Siti Rahmah,S.pd
Pengajar

Indonesia mengadopsi sistem pendidikan berbasis kapitalisme, paradigm pendidikan sudah bergeser dari hakikat pendidikan itu sendiri. Apalagi pascaimplementasi ekonomi berbasis pengetahuan (Knowledge Based Economy/KBE) menjadikan pendidikan berubah fungsi.

Pendidikan vokasi telah menjelma menjadi primadona baru di dunia pendidikan. Orientasinya adalah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap memenuhi kebutuhan pasar kerja. Tujuan pendidikan vokasi memang bertujuan membangun kualitas SDM yang mampu menghadapi era Industri 4.0.

Tujuan ini Nampak nyata dari pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Pemerintah melalui Kemendikbud bakal menggelontorkan Rp3,5 triliun untuk mengawinkan pendidikan vokasi dengan industry.

Bukan lagi pencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas dari aspek karakter dan kemanfaatannya bagi umat manusia. Tapi mencetak SDM mesin industri.

Program yang digagas Kemenperin pada tahun 2018 adalah Link and Match. Peluncuran program pendidikan vokasi industry tersebut diatur dalam instruksi President Nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK, yang diharapkan agar seluruh SMK di Indonesia ke depannya dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja sesuai kebutuhan industry.

Dalam pendidikan vokasi, keikutsertaan industry mempermudah penyerapan tenaga kerja di kalangan pelajar dan lulusan kampus. Jika ingin langsung bekerja mereka cukup sekolah di bidang kejuruan yakni SMK. Bila ingin meneruskan ke pendidikan tinggi, program studi yang berpeluang besar menyerap tenaga dibanjiri calon mahasiswa.

Faktor peminatan pelajar pada keahlian teknis mengindikasikan bahwa program pendidikan vokasi telah berhasil memengaruhi prevelensi mereka dalam menuntut ilmu. Ilmu tidak lagi bertujuan mencerdaskan anak bangsa. Menuntut ilmu hanya terdorong lantaran lulus langsung kerja. Begitulah prinsip pencari ilmu dalam pengaruh kapitalisme. Keterampilan dan kompetensi kerja menjadi poin utama seberapa besar serapan tenaga kerja di dunia industri. Dengan mengadopsi kebijakan Knowledge Based Economy, pendidikan di arahkan hanya untuk memenuhi pasar kerja.

Andai kata tidak terserap sebagai tenaga kerja, setidaknya mereka mampu berwirausaha. Itulah alasan mengapa perkawinan pendidikan vokasi dan industry adalah strategi yang harus dilakukan. Yaitu, melahirkan SDM bermental buruh.

Manakala tenaga kerja terserap, pertumbuhan ekonomi di anggap meningkat. Klaim penurunan pengangguran pun bisa diperkuat dengan kebijakan ini. padahal faktanya tidaklah demikian. Derasnya investasi tidak berdampak pada serapan tenaga kerja.

Berita Lainnya

Peran Pemuda dalam Arus Perubahan Bangsa

Rakyat dan Calon Pemimpin Merakyat

1 dari 167

Pendidikan dalam asuhan kapitalisme menegaskan bahwa hakikat pendidikan dalam kehidupan manusia. Pendidikan bukan sekedar mencetak tenaga kerja. Namun, yang lebih utama adalah membentuk kepribadian mulia.

Keilmuan yang dimilikinya tidak melulu untuk mengisi pasar kerja. Generasi semestinya di dorong sebagai pembangunan peradaban. Menciptakan teknologi dan inovasi untuk kepentingan umat manusia.

Perkawinan pendidikan vokasi dengan industry menampakkan political will pemerintah nihil. Jika pemerintah memiliki political will, harusnya berpikir bagaimana meningkatkan SDM menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Bukan pelayan yang melayani para capital.

Bila pemerintah memiliki komitmen mewujudkan kemandirian Negara, mestinya jadikanlah lembaga pendidikan memiliki visi jangka panjang. Visi sebagai pelaku ekonomi makro, tidak sebatas mikro. Bukan hanya diberi skill, namun juga dibekali karakter sebagai pemimpin. Mepimpin negeri ini dengan mengelola sumber daya alam secara mandiri.

Kapitalisme telah menggerus visi besar yang semestinya dimiliki sebuah Negara. Pendidikan pun minus visi. Dampak buruk dari kebijakan pendidikan yang mengarahkan lulusannya “ hanya tahu bagaimana menjadi mesin uang” adalah karakter sebagai pelopor peradaban menjadi hilang.

Efeknya, Negara tidak mampu berdikari. Bergantung pada belas kasih bantuan Negara lain. Bos industry tetap kapitalis, sementara anak negeri yang paling mentok hanya sebagai karyawan atau buruh para kapitalis.

Gerbong utama lahirnya generasi unggul adalah pendidikan. Orientasi pendidikan dalam islam tidak bisa dilepaskan dari paradigm islam. pendidikan dalam islam merupakan upaya terstruktur dan sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba ALLAH dan Khalifah Allah di muka bumi. Dalam islam, pendidikan tidak sekedar berorientasi mengejar lulusan siap kerja. Namun, orientasi lulusannya haruslah berimbang antara dunia dan akhirat.

Pada aspek dunia, mereka dibekali sainstek, keterampilan dan semua hal yang dibutuhkan agar berdaya guna di tengah masyarakat. ilmunya digunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemaslhatan umat.

Dalam aspek akhirat, ia akan bertumbuh menjadi generasi yang memiliki kepribadian mulia. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya ilmua-ilmuan muslim yang tak hanya pandai ilmu sainstek. Mereka juga cakap dalam ilmu agama. Pendidikan islam juga mendorong para lulusan bermental pemimpin peradaban.

Islam memadukan orientasi dunia dan akhirat menjadi satu kesatuan. Selain berhasil membentuk generasi mulia yang beradab, islam juga sukses mencetak SDM unggul di segala bidang. Baik politik, ekonomi, social dan sainstek.

Semua itu di dorong political will berasaskan pandangan hidup adalah islam. dan semua ini hanya tercipta jika aturan Allah SWT di terapkan secara menyeluruh segala aspek kehidupan, sebagai bentuk keimanan kepada Rabb Pencipta.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya