Menjadi Al Amin dan Ash-Shi-Siddiq

Oleh : Ismail Wahid, SH.MH.
Praktisi Hukum

Rasulullah adalah teladan paling sempurna dalam soal bersikap amanah. Beliau diberi gelar al-amin, sosok yang terpercaya. Dan amanah, sebelum dan sesudah diutus menjadi Rasul Allah. Sementara itu, Abu Bakar (sahabat sekaligus mertua nabi), memiliki gelar ash-shiddiq, yakni sosok yang loyal dan memiliki integritas yang luar biasa sebagai seorang muslim sejati. Dan kini keduanya telah tiada, dengan meninggalkan warisan keteladanan sebagai pemimpin umat sepanjang masa.

Sepeninggal Rasullullah SAW dan Abu Bakar, hingga kini pribadi-pribadi yang memiliki sikap amanah dan shiddiq itu tetap diperlukan. Dalam kehidupan bermasyarakat, harus ada pemimpin yang menjadi teladan karena sikap amanah dan shiddiq-nya yang selalu menjadi pribadi yang memiliki integritas dan sadar akan kewenangan yang diberikan kepadanya, mengabdi kan tugasnya demi kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Dalam kaitannya dengan kepemimpinan umat, Ibnu Taimiyah pernah menyatakan

bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan umat Islam untuk mengangkat seorang pemimpin dalam wujud kepemimpinan yang dilandasi oleh sikap amanah dan shiddiq, mulai dari tingkatan terendah hingga tertinggi. Bahkan dikatakan, “Dalam satu rombongan perjalanan yang hanya terdri dari tiga orang sekalipun, harus ditunjuk satu orang pemimpin yang memiliki sikap amanah dan shiddiq”. Apalagi dalam kehidupan berbangsa dan bergegara, tentu peran pemimpin seperti itu sangat penting. Tidak kalah penting adalah peran masyarakat dalam memilih pemimpin, harus memiliki sikap kritis terhadap kepemimpinannya para pemimpinnya.

Allah SWT. mengingatkan kepada ummat Islam dengan satu pernyataan seperti

dalam Alqur’an, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. (QS. Al Maidah : 57).

Ayat ini, esensinya manekankan arti pentingnya memilih pemimpin yang beriman, sebab pemimpin yang beriman akan selalu ingat bahwa apa-apa yang dia miliki tidak lain adalah kepunyaan Allah, termasuk juga kekuasaan yang diamanatkan oleh rakyat yang memilihnya.

Secara individual, pemimpin harus memiliki sifat amanah, baik kepada sesama manusia maupun kepada Allah SWT. Dia harus melepas dari masalah-masalah kejahatan publik seperti korupsi, kolusi dan nepotisme dengan seluruh derivasinya (perluasan maknanya), disamping kemampuan manajerial mengelola persoalan publik. Sebab, pada akhirnya dia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya bukan hanya kepada rakyat yang memilihnya, melainkan juga kepada Allah SWT.

Berita Lainnya
1 dari 267

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa sebagian besar masyarakat masih terbelenggu pada sikap primordial. Masyarakat juga sering terpukau pada kharisma seorang tokoh ketika harus menentukan siapa pemimpin yang layak dipilihnya. Hal ini mengakibatkan banyak pemimpin yang terpiih bukan karena kelayakan leadershipnya (kepemimpinannya), tetapi hanya karena yang dipilih adalal pribadi yang sangat populer. Mereka yang terpilih karena ikatan emosional dengan pemilihnya dan karena kharismanya. Ironisnya, ada seorang pemimpin yang terpilih hanya karena kedekatan dengan para pemilihnya dari sisi kepentingan kepentingan jangka pendek, termasuk karena kepentingan pragmatis sosial politik dan ekonomi.

Hingga kini, umat Islam masih memerlukan proyek pencerdasan guna membangun kesadaran kolektifnya, serta pendidikan politik untuk memilih pemimpin secara rasional-kalkulatif hingga terpilih figur pemimpin yang berkualitas. Seperti kretaria kepemimpinan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW, yakni Shiddiq (jujur), fathonah (cerdas dan berpengetahuan) amanah (dapat dipercaya dan diandalkan) dan tabligh (berkomunikasi dan Komunikatif dengan bawahannya dan semua orang).

Pada masanya, Nabi Muhammad senantiasa menjunjung tinggi sikap-sikap itu, yang mewujud pada sikap dan prilakunya sebagai seorang pemimpin sejati, baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin masyarakat (yang memiliki otoritas moral dan politik secara sinergis). Nabi Muhammad adalah teladan bagi semua pemimpin. Namun, empat Kreteria tersebut kini tidak tidak lagi “tumbuh dan berkembang” dengan baik pada para pemimpin kita. Mungkin kretaria di atas sudah dianggap tidak cocok lagi, dan dianggap terlalu ideal. Sayang di saat kita sering menyebut nama nama besar dalam sejarah

kepemimpinan umat Islam, kita tiba-tiba (seolah-olah) berputus asa untuk mencari sosok pribadi seperti Nabi Muhammad (al-amin) dan Abu Bakar (Ash-Shhiddiq).

Di masa Bani Umayyah, kita mengenal seorang pemimpin besar yang pantas diteladani, yakni Umar bin Abdul Azis. Sebelum menjadi pemimpin negara, Umar berpola hidup mewah. Namun, ketika ia diangkat menjadi pemimpin negara, ia tinggalkan semuanya. Suatu ketika, saat berdiri di atas mimbar di hari jumat, ia menangis ketika dibaiat oleh umat Islam sebagai pemimpin. Di depan para pemuka, pejabat negara, tokoh masyarakat dan panglima pasukan, Umar berkata, “Cabutlah pembaiatan kalian”. Mereka pun menjawab, “Kami tidak menginginkan selain anda”. Ia kemudian memangku jabatan itu.

Tidak sampai satu minggu setelah itu, Umar telah berubah. Ia menjadi seseorang yang sangat bersaja. Hingga orang orang pun bertanya kepada isterinya tentang apa yang terjadi pada dirinya. Isterinya menjawab,

“Demi Allah, ia tidak tidur semalaman. Demi Allah, ketika ia beranjak ke tempat tidurnya. la membolak balik tubuhnya seolah tidur di atas bara api, la mengatakan, “Aku memangku urusan umat Muhammad SAW. sedangkan pada hari kiamat aku akan dimintai pertanggung jawaban oleh orang—orang fakir miskin, anak-anak yatim dan para janda. Apakah aku sanggup untuk mempertanggung jawabkannya”.

Umar bin Abdul Azis adalah teladan bagi para pemimpin. Barangkali la pun selalu ingat terhadap pesan Rasulullah SAW ketika berkata kepada para sahabat, “Janganlah kalian menuntut suatu jabatan. Jabatan (kedudukan) pada permulaannya adalah penyesalan. Pada pertengahannya adalah kesengsaraan (kekesalan hati). Dan pada akhirnya adalah azab pada hari kiamat”. (hadist riwayat Thaberani).

Bersikap amanah dan shiddiq itu sangat sulit. Tetapi di ketika kita sudah menjadi pemimpin, kita harus siap berhadapan dengan realitas yang sering kali menggoda kita untuk tidak bersikap seperti itu. Peganglah kebenaran meski harus dimusuhi banyak orang yang merasa kepentingan pribadi dan golongannya dirugikan. Sebagaimana yang ditujukan oleh Rasulullah SAW (al-amin) dan Abu Bakar Ash-Shlddiq dan Umar bin Abd Azis.

Ketika Umar bin Abdul Azis mampu meneladani Rasulullah SAW (al-amin) dan Abu Bakari (Ash-Shidniq) semoga kita pun menjadi bagian dari para penjaga sikap itu. Sekecil apapun tanggungjawab kepemimpinan yang dipercayakan dl pundak kita.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya