Pelajar, Mahasiswa dan Kaum Buruh Demo Menolak UU Cipta Kerja

Oleh H. Rahmad, M.Pd.
Pengajar SMP Negeri 1 Banjarmasin

Akhir-akhir ini di berbagai kota di Indonesia dimarakkan dengan aksi demontrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan buruh, bahkan pelajar ada yang ikut-ikutan dalam aksi tersebut. Mereka semua berkeinginan untuk menolak atau membatalkan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja. Hal ini dikarenakan UU tersebut telah disahkan oleh Ketua DPR RI ibu Puan Maharani pada Senin, 5 Oktober yang lalu, pengesahan RUU menjadi UU ini terjadi pukul 17.52 WIB.

Bagi pihak pendemo mereka ingin tuntutannya dipenuhi. Mereka berpandangan UU yang baru disahkan ini sangat merugikan hak-hak para buruh di Indonesia dan lebih menguntungkan para pemilik modal atau pengusaha saja. Oleh karena itu, demo telah beberapa kali dilaksanakan. Demonstrasi di jalanan maupun suara penolakan terhadap UU Cipta Kerja di media sosial sudah merebak sejak Senin, 5 Oktober lalu. Selasa, 20 Oktober 2020 juga masih terjadi demo. Massa menuntut Presiden Jokowi untuk mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu) agar membatalkan UU Cipta Kerja.

Mengapa demo di negeri tercinta kita masih terus digaungkan? Sampai kapan ini akan berakhir? Harus ada ada jalan tengah agar ditemukan solusi yang terbaik. Kalau masing-masing pihak masih memaksakan kehendak masing-masing maka kata damai dan sepakat tidak akan pernah terwujud, sehingga demo-demo akan terus berlangsung di negeri ini. Bahkan, adakalanya demo itu dilakukan dengan cara anarkis, yaitu merusak aset-aset pemerintah seperti yang telah terjadi di Kota Surabaya beberapa waktu yang lalu. Hal ini sampai membuat ibu Tri Rismaharini selaku walikota Surabaya marah kepada para pendemo.

Saya selaku praktisi pendidikan sangat prihatin dengan keadaan ini, apalagi kegiatan ini sudah melibatkan pelajar yang notabene tugas mereka bukan di jalanan untuk berdemo, tetapi seharusnya mereka belajar di rumah dengan model Daring ataupun Luring. Pembelajaran Jarak Jauh seperti yang dilaksanakan sekarang ini adalah dampak dari Pandemi. Walaupun sekarang sebagian sekolah di Indonesia sudah ada yang diperbolehkan membuka pelajaran melalui tatap muka, tentunya hal ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat agar virus Corona tidak kembali merajalela seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Belajar dengan tatap muka ini hanya boleh dilakukan oleh sekolah dalam zona hijau atau kuning, sedangkan bagi daerah yang masih zona merah dan oranye maka pembelajaran jarak jauh masih tetap diberlakukan.

Kembali ke masalah demo yang yang telah melibatkan tidak hanya buruh, tetapi para mahasiswa juga beberapa pelajar yang mengikuti aksi ini karena rasa peduli dengan nasib rakyat kecil, seperti buruh. Bagi saya, demo sah-sah saja dilaksanakan asal sesuai dengan prosedur dan tidak menimbulkan keanarkian, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa atau korban luka-luka. Karena menyampaikan pendapat di muka umum telah diatur dalam undang-undang maka demo yang yang telah memperoleh izin dari pihak kepolisian dan mereka demo dengan tertib, serta menyampaikan aspirasi dengan santun maka hal itu sangat tidak dilarang. Tetapi faktanya tidak demikian, demo sering dibarengi dengan kata-kata provokatif yang menyulut emosi, sehingga ada pendemo yang berbuat anarki seperti merusak fasilitas-fasilitas umum di tempat demo itu berlangsung. Menurut saya, inilah demo yang seharusnya tidak perlu dilakukan, karena tujuan demo sudah menyimpang. Apakah dengan merusak fasilitas umum demo dikatakan berhasil? tentu tidak. Bahkan, ini sangat merugikan semua pihak, terutama pemerintah yang harus mengganti dan memperbaiki fasilitas yang rusak tersebut.

Oleh karena itu, semua pihak terutama pemangku kebijakan harus benar-benar bijak agar masalah di negeri ini segera dapat teratasi dan tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan yang dibuat tersebut. Seyogianya kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemangku kebijakan dapat membuat rakyat menjadi semakin sejahtera bukan sebaliknya.

Berita Lainnya

Ayo Bershalawat kepada Nabi

Menjadi Al Amin dan Ash-Shi-Siddiq

1 dari 179

Di kota yang berjuluk Kota Seribu Sungai atau Kota Banjarmasin para mahasiswa juga menggelar aksi demo. Demo ini dipusatkan di sekitar Kantor DPRD Kalsel. Sebelum bergerak ke kantor DPRD Kalsel mahasiswa menggelar aksi di Bundaran Hotel A, Banjarmasin. Menurut pengamatan saya demo ini berlangsung tertib, aman, dan cukup terkendali. Mereka para pendemo masih dapat diatasi oleh pihak-pihak yang mengamankan jalannya demo, yaitu aparat Kepolisian.

Ada sisi positif, ada juga sisi negatif dari kegiatan demo yang masih hangat-hangat ini. Sisi positif dan negatifnya tergantung bagaimana demo ini dilaksanakan, apakah berlangsung sesuai prosedur atau sebaliknya dan bagaimana hasil akhir dari demo ini, apakah dapat meyenangkan semua pihak atau sebaliknya. Namun, demo juga menyisakan sedikit kengerian, karena ada saja berita-berita pendemo yang terkena pentungan petugas atau juga gas air mata. Selain itu demo juga menimbulkan kemacetan diberbagai wilayah atau jalan tempat demo berlangsung.

Harapan saya selaku pendidik di salah satu sekolah di kota Banjarmasin, demo ini segera berakhir dan ditemukan solusi yang terbaik antara pihak pendemo dan pihak yang didemo. Kita tidak ingin energi terkuras untuk hal-hal yang dapat mengurangi persatuan dan keamanan di negeri ini. Apalagi sekarang pandemi virus Corona masih belum berakhir. Energi kita masih dikuras untuk berperang melawan virus yang tak kasat mata ini, kemudian ditambah pikiran dan energi kita juga disibukkan dengan demo atau berita-berita tentangnya.

Selain itu, demo menolak UU Cipta Kerja ini juga menyisakan pengalaman bagi pelajar yang telah ikut-ikutan demo tersebut. Saya berharap mereka dapat memetik pelajaran berharga dari apa yang telah mereka lakukan, walaupun tindakan mereka dinilai belum saatnya dilakukan.

Semoga ke depannya pemangku kebijakan, seperti pemerintah dan DPR RI bila membuat kebijakan, benar-benar membuat rakyat senang dan semua pihak juga demikian. Bila ini terjadi telah di negeri kita, maka berita-berita demo akan jarang lagi terdengar atau terbaca di media cetak maupun elektronik. Walaupun menurut pemerintah UU Cipta Kerja itu menguntungkan karena membuka peluang investor atau para penanam modal di Indonesia untuk berinvestasi lebih banyak sehingga harapannya lapangan kerja lebih terbuka luas, tetapi bagi para buruh ada beberapa poin dalam UU tersebut yang dirasa masih belum menguntungkan mereka.

Kepada semua pihak, baik rakyat maupun pemerintah, marilah kita jaga kondisi bangsa ini agar tetap kondusif. Kita semua tidak ingin sengsara karena tindakan kita sendiri. Sudah saatnya rakyat merasakan manisnya kebijakan yang yang ditetapkan. Mereka sudah banyak merasakan beban, seperti beban ekonomi, sosial, dan psikologis di masa pandemi Covid 19 ini.

Demikianlah yang dapat saya tulis dalam rubrik opini ini. Semoga apa yang telah saya tulis dapat bermanfaat khususnya. bagi para pembaca. Saya selaku manusia biasa menyadari bahwa kebenaran itu semata-mata dari Allah Swt. dan kesalahan itu dari saya pribadi. Wallahualam.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya