Dilema Belajar Tatap Muka di Masa Pandemi

Oleh : H. Rahmad, M.Pd.
Pengajar di SMP Negeri 1 Banjarmasin

Sejumlah sekolah telah melakukan pembelajaran secara tatap muka di tengah pandemi virus corona, karena banyak sudah daerah di Indonesia yang berada di zona kuning dan zona hijau. Di Kota Banjarmasin sendiri sudah banyak wilayah dengan zona kuning dan zona hijau. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin merencakan menggelar sekolah tatap muka pada November mendatang. Keputusan ini diambil setelah Disdik mendapatkan persetujuan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Oleh karena itu, pada bulan Oktober ini Disdik Banjarmasin mengeluarkan Surat Edaran Persiapan Belajar Tatap Muka. Selain itu, Disdik Banjarmasin juga masih menunggu persetujuan Plt.Wali Kota Banjarmasin. Kemendikbud sendiri telah memberikan lampu hijau pelaksanaan belajar tatap muka, salah satu syaratnya adalah daerah tersebut berada di zona kuning dan zona hijau. Namun, bila di suatu daerah masih ada ditemukan 1 zona merah atau oranye, maka pembelajaran jarak jauh harus tetap dilaksanakan di daerah yang berada di zona itu. Keputusan Ke
mendikbud ini berdasarkan revisi surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, yaitu Mendikbud, Menkes, Menag, dan Mendagri terkait proses pembelajaran tatap muka di sekolah tahun ajaran 2020/2021.

Di zaman modern sekarang ini, jarak bukan lagi halangan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Dengan kemajuan teknologi segala sesuatu menjadi lebih mudah. Yang dulu mustahil dilakukan sekarang dengan mudah dapat dilakukan. Orang dapat melihat satu sama lain dan berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung. Dengan menggunakan ponsel pintar dan laptop serta jaringan internet yang baik kita dapat menggunakan berbagai aplikasi yang menunjang pembelajaran jarak jauh. Itulah kemajuan teknologi yang sekarang telah banyak dimanfaatkan.

Kita sudah masuk era di mana pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui sistem tatap muka, tetapi pembelajaran dapat dilakukan dengan jarak jauh menggunakan aplikasi Google Classroom. Melalui aplikasi ini guru dapat memberi materi pelajaran berupa tulisan, file dokumen, PDF, dan lain sebagainya. Guru juga dapat mengirim gambar, video atau link video pembelajaran. Siswa juga dapat mengisi presensi atau kehadiran lewat aplikasi ini. Selain itu tugas-tugas untuk siswa juga dapat dibuat dan dikirim lewat aplikasi ini. Banyak hal dapat dilakukan lewat aplikasi ini guna menunjang pembelajaran.

Selain itu, pembelajaran juga dapat dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Guru dan siswa dapat membuat grup yang nantinya dijadikan wadah untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pembelajaran jarak jauh juga dapat menggunaka metode gabungan daring dan luring. Metode luring digunakan jika sarana dan prasarana tidak memadai. Misalnya ada banyak siswa yang tidak memiliki ponsel pintar untuk belajar daring atau jaringan internet yang lelet bahkan mungkin tidak ada sinyal, maka guru dapat menempuh pembelajaran luring saja.

Sudah cukup lama pembelajaran jarak jauh dilaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia. Baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Di jenjang pendidikan yang lebih tinggi juga demikian. Dosen dan mahasiswa mengadakan pembelajaran melalui aplikasi Zoom Cloud Meetings. Zoom menjadi salah satu aplikasi yang dimanfaatkan untuk membuat pengajar dan peserta didiknya tetap produktif dalam berdiskusi dan belajar, aksesibilitasnya dapat dijalankan dengan ponsel pintar dan laptop sehingga dosen, mahasiswa, guru, dan siswa lebih mudah dan nyaman memakainya. Walau tidak dipungkiri aplikasi ini memerlukan kuota data yang tidak sedikit dan sinyal internet yang kuat agar koneksi tetap terjaga dengan baik.

Di kota Banjarmasin sekarang banyak daerah dengan zona kuning dan zona hijau, maka wacana pembukaan sekolah sudah di depan mata. Untuk jenjang SMP belajar tatap muka direncanakan dimulai November nanti. Tentu saja hal ini dengan berapa syarat yang harus dipenuhi. Seperti kesiapan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka ini. Masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, wastafel dan thermogun (alat pengukur suhu tubuh tembak) harus tersedia di sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka. Jumlah siswa per kelas juga dibatasi dengan maksimal 18 orang dan tentunya jarak tempat duduk juga diatur sesuai dengan jarak aman yang ditetapkan.

Cuci tangan menggunakan sabun, selalu menjaga jarak dan memakai masker, serta memeriksa suhu tubuh akan menjadi kebiasaan baru yang harus diterapkan untuk semua warga sekolah selama pembelajaran tatap muka dilaksanakan, sedangkan kebiasaan lama seperti bersalaman antara siswa dengan guru mungkin akan dihilangkan. Pembelajarannya juga dilakukan bergantian karena tiap-tiap kelas tidak diisi penuh, karena memang angkanya dibatasi sesuai dengan Surat Edaran Persiapan Belajar Tatap Muka yang telah diterbitkan oleh Disdik Kota Banjarmasin.

Berita Lainnya
1 dari 264

Persetujuan dari orang tua siswa juga menjadi syarat lain agar pihak sekolah dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka. Dalam hal ini kepala sekolah dibantu beberapa guru dapat mengadakan survei terlebih dahulu untuk memperoleh pendapat dan jawaban para orang tua, apakah mereka merestui jika anak-anaknya masuk sekolah seperti biasa. Survei persetujuan orang tua ini disarankan dilakukan secara online, jika terpaksa dilakukan melalui tatap muka, maka wajib memperhatikan protokol kesehatan dan membuat penjadwalan.

Untuk tahap awal, hanya Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang diperbolehkan melaksanakan pembelajaran tatap muka. Ada perbedaan antara waktu belajar sekolah di masa pandemi dengan sekolah sebelum pandemi Covid-19. Waktu belajar di masa pandemi lebih singkat, hal ini sudah terdapat dalam Surat Edaran Perihal Persiapan Belajar Tatap Muka Terbatas yang telah dibuat oleh Disdik Kota Banjarmasin. Untuk tingkat SMP dari Senin sampai Kamis belajarnya 4 jam per hari, sedangkan Jumat 2,5 jam, dan Sabtu waktu belajarnya hanya 3 jam. Setiap harinya siswa mendapatkan jatah istirahat 15 menit dengan pengawasan para guru.

Dengan rencana ini tentu saja menimbulkan dilema. Karena kita telah mendengar berita di tempat lain, ada sekolah yang kembali melaksanakan belajar tatap muka, tetapi ternyata setelah dilaksanakan, ada beberapa siswa yang tertular Covid-19. Apakah dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan benar-benar menjamin bahwa siswa dan guru aman? Saya rasa kita tidak mampu menjamin 100% bahwa kegiatan belajar tatap muka aman. Namun, dengan protokol kesehatan yang ketat dan sesuai standar diharapkan penularan virus corona dapat dicegah atau setidaknya dimimalisir. Hal ini masih menyisakan kekhawatiran, karena potensi anak-anak terpapar virus corona masih tinggi. Tentu sudah dipahami, jika 1 orang siswa saja terkena virus ini, maka virus dapat dengan mudah dan cepat ditularkan ke siswa-siswa lainnya.

Kekhawatiran bahaya corona tidak hanya dirasakan oleh orang tua para siswa, tetapi juga dirasakan oleh guru sebagai pihak yang melaksanakan langsung dan berhadapan dengan para siswa di sekolah. Apalagi anak-anak atau para siswa sangat rentan terpapar virus ini. Oleh karena itu, tanggungjawab ini hendaknya tidak dilimpahkan hanya kepada guru dan pihak sekolah saja. Orang tua pun dituntut aktif mengawasi anak mereka masing-masing. Mulai dari antar jemput, hingga menyiapkan bekal makan dari rumah. Karena jika orang tua dapat mengantar anak-anaknya dan memberi mereka bekal makanan dari rumah, ini merupakan satu upaya menjaga keselamatan mereka dari paparan virus corona, sehingga mengurangi kekhawatiran para guru kepada siswanya, jika guru tahu orang tua siswalah yang mengantar mereka, maka dilema yang dirasakan guru pun mulai berkurang.

Saya sebagai guru di salah satu SMP Negeri di kota ini berharap, jika sekolah secara tatap muka kembali diberlakukan, setidaknya para guru dan siswa dites dulu, jika hasilnya tidak ada yang terpapar maka pembelajaran tatap muka akan membuat hati menjadi lebih tenang, tetapi jika para siswa yang dites misalnya berjumlah ratusan, bahkan mendekati angka ribuan hal ini tentu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ini juga menjadi salah satu dilema. Namun jika tes tidak mungkin dilakukan kepada seluruh siswa dan guru, bisa saja tes ini menggunakan sistem acak dan sampel saja.

Sudah banyak perubahan yang terjadi karena adanya pandemi ini. Contohnya perubahan tata cara pelaksanaan pembelajaran, memakai masker sekarang juga menjadi kewajiban setiap orang bila keluar rumah bankan ada sanksi jika melanggarnya. PSBB yang pernah dilaksanakan juga mengubah beberapa tananan kehidupan kita.

Kita semua berharap pandemi Covid ini segera berakhir, khususnya di bumi Indonesia tercinta ini. Kalau ini terwujud tentu para siswa dan guru dapat merasakan indahnya bersekolah seperti sedia kala. Para pekerja lebih tenang dan aman bekerja. PHK karena Covid tidak ada lagi. Tempat-tempat wisata juga kembali ramai, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Saya yakin harapan ini bukan sekadar mimpi atau angan-angan belaka, tapi suatu saat akan terwujud menjadi nyata. Karena Tuhan Maha Kuasa maka kalau kita senantiasa memohon kepada-Nya dengan mudah Tuhan dapat melenyapkan pandemi yang membuat dilema ini dan dibarengi dengan usaha semaksimal mungkin untuk selalu menerapkan protokol kesehatan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu bersabar ketika diuji dan dapat mengambil hikmah dari kejadian ini. Semoga Tuhan segera mengangkat pandemi ini untuk selamanya sehingga menghilangkan segala dilema kita.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya