Membabibuta Gencarkan Bahaya Radikalisme, Rezim Halangi Kebangkitan Islam

Oleh : Siti Rahmah, S.Pd
Pemerhati Sosial Keagamaan

Jakarta, CNN Indonesia. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga untuk tak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham Khilafah sebagai aparatur sipil Negara (ASN) atau pegawai negeri sipil(PNS).

Ia juga meminta agar masyarakat yang mendukung ide khilafah untuk tak perlu ikut bergabung sebagai calon pegawai sipil (CPNS).

Salah satunya, ia meminta agar prasyarat dan seleksi CPNS ke depannya di buat lebih ketat lagi. Hal itu bertujuan sebagai antisipasi menyebarnya bibit-bibit pemahaman prokhilafah di lingkungan ASN.

Tak hanya itu, Fachrul menyatakan potensi masuknya penyebaran ajaran prokhilafah bisa masuk melalui jalur lambaga pendidikan. Oleh karena itu ia meminta kewaspadaan atas para tenaga pengajar yang sudah terpapar paham khilafah.

Berulang kali Menag Fachrul Razi membuat narasi bahwa radikalisme merupakan suatu paham yang berbahaya. Namun tuduhan yang dilontarkan selalu menyasar umat Islam dan ajaran Islam

Pengertian radikalisme dalam situs Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki tiga arti. Radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, atau sikap ekstrem dalam aliran politik. Selain itu pengertian radikalisme yang lain adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dari beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka.

Pemahaman terhadap radikalisme itu sendiri mengalami pelencengan makna, baik pemerintah dan masyarakat umum hanyan menyoroti apa yang kelompok-kelompok radikal lakukan (dalam hal ini adalah praktik kekerasan). Namun, tidak pernah berusaha menggunakan sudut pandang perbaikan. Sehingga adanya diskriminasi terhadap seseorang atau kelompok tertentu karena di anggap radikal. Namun pada faktanya mereka tidak pernah melakukan praktik kekerasan malah menjadi tertuduh walaupun memiliki paham radikal bermakna positif yakni perbaikan.

Prihatin menyaksikan di negeri mayoritas muslim justru Islam dijadikan tertuduh. Islam dideskreditkan secara sistematis oleh umat muslim sendiri, terutama oleh Negara. Beragam narasi perang melawan radikalisme.

Narasi Khilafah memang sudah lama dipandang berbahaya, terutama rezim ini berkuasa. Bahkan perlawanan terhadap narasi ini berjalan seiring dengan proyek perang melawan radikalisme yang diaruskan Negara adidaya dalam skala internasional demi merespon geliat kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia.

Senyatanya, apa yang mereka sebut sebagai radikalisme tak lain adalah dakwah pada penerapan Islam kaffah dan penegakkan Khilafah. Dakwah ini dan para pengembannya kemudian diposisikan sebagai musuh bangsa atau musuh pancasila. Dan di saat yang sama, oergerakan dakwah Khilafah distigma sebagai problem untama bangsa.

Yang ironis, keseriusan pemerintah melawan dakwah Khilafah yang distigma sebagai paham radikal ini, ternyata tidak diikuti dengan kesungguhan mereka dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat.

Bahkan munculnya wabah pandemi kian membuka borok-borok kinerja rezim hingga persoalan bangsa makin bertumpuk-tumpuk, jauh dari solusi yang hakiki.

Faktanya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa ini sedang menghadapi begitu banyak persoalan. Ekonomi nasional benar-benar terpuruk di tengah utang yang terus menumpuk. Kemiskinan pun terus bertambah terutama saat wabah gagal dicegah.

Berita Lainnya

Hati yang Gelisah

Jalan Terjal Penghapusan Kekerasan Seksual

1 dari 332

Sungguh, semua fakta ini sudah cukup untuk menyadarkan umat yang akal dan hatinya masih terpelihara. Bahwa musuh sejati mereka bukan khilafah dan para pengusungnya sebagaimana terus di propagandakan penguasa.

Musuh mereka yang hakiki justru adalah kekufuran yang ditegakkan penguasa. Yakni berupa system sekuler demokrasi kapitalisme neoliberalisme buatan manusia yang nyata-nyata telah menyebabkan umat terjatuh dalam kubangan lumpur kehinaan dan dominasi Negara-negara adidaya.

Opini “Islam Radikal” jelas subyektif dan berbahaya. Subyektif karena bersumber dari pendangan negative Barat terhadap islam. Istilah islam radikal ditujukan kepada kelompok-kelompok islam yang tidak mau sejalan dengan kebijakan barat.

Saat ini Islam Radikal atau istilah Radikalisme, salah satu postulat yang ditebarkan oleh barat melalui berbagai corong media mereka. Sebagai strategi adu domba sesame muslim, maka barat pun membuat tandingan kontra radikalisme dengan istilah Islam moderat. Istilah-istilah inilah yang digunakan sebagai narasi menghalangi Khilafah.

Menggunakan berbagai istilah radikalisme sehingga kelak melahirkan Islamofobia di barat dan seluruh dunia. Menumbuhkan keraguan pada umat Islam akan kebenaran Islam. Diantara keraguan yang mereka lancarkan adalah gugatan tentang otentitas Al-Qur’an, keraguan atas kerasulan Muhammad SAW. Dampaknya tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam. sehingga jika masih ada seorang muslim yang secara fanatic memahami islam maka mereka kemudian dicap sebagai radikalis.

Menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap islam. mereka dengan gencar mencitrakan Islam menjadi buruk melalui media-media. Sehingga dampak dari ini menggejalannya rendah diri pada umat Islam. Dan umat Islam terjebak dalam pemikiran pluralisme agama. Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Menyamarkan ajaran Islam yang mulia.

Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap. Ajaran ini mencakup semua hal. Hali itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah al-Nahl ayat 89. Ayat ini menegaskan bahwa ALLAH melalui Al-quran telah menjelaskan semua hal, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Hanya saja, simpul penting pemerintahan islam itu justru yang pertama kali lepas. Inilah sebabnya umat menjadi asing dengan salah satu ajaran Islam ini, sebagaimana sabda Nabi SAW :

“Sungguh simpul-simpul islam akan terurai satu persatu, setiap kali satu simpul terlepas manusia akan bergantung pada simpul berikutnya, dan simpul yang pertama lepas adalah al-hukm (pemerintahan) dan yang terakhir adalah sholat”. (HR Ahmad)

Mentaati perintah Allah SWT dan RasulNya adalah konsekuensi keimanan seorang muslim. Keimanannya akan menuntut dirinya untuk senantiasa taat kepada Allah SWT dan RasulNya. Tidak membangkang sedikitpun terhadap aturanNya.

Allah SWT berfirman “Tidak patut bagi Mukmin dan Mukminat, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat secara nyata”. (QS. Al-Ahzab : 33)

Nabi SAW bersabda, “Sungguh aku telah meninggalkan dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku”. (HR Al-Hakim)

Khilafah adalah ajaran Islam, karenanya, siapa saja memperjuangkannya bukan pelaku kriminal. Mengusahakan tegaknya khilafah adalah wujud ketaatan pada agamanya.

Khilafah adalah ajaran Islam yang agung dari Allah SWT. Khilafah sistem pemerintahan dalam islam, sekaligus sebagai metode pelaksanaan syariat secara kaffah atau menyeluruh. Khilafah bukan ideology, karena ideology merupakan ide ide dasar yang mendasari semua pemikiran yang dibangun di atasanya. Ideology adalah pemikiran mendasar yang melahirkan system kehidupan. Perlu ditegaskan lagi, khilafah adalah ajaran islam tentang system pemerintahan, pelaksanaan hukum syariat dan dakwah. Kewajiban menegakkan khilafah didasarkan pada Al-Qur’an, sunah, dan Ijmak sahabat dengan perintah yang tegas.

Sebagai umat yang satu, yang memahami kewajiban masuk ke dalam Islam secara kaffah (QS. Al-Baqarah: 208) yang memahami wajibnya berhukum pada hukum Allah (QS. Al-Maidah: 50) serta memahami kewajiban menegakkan khilafah. Sudah seharusnya kaum muslimin semakin bersemangat menyuarakan Islam dan mendakwahkan islam. wallahu a’lam bis showab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya