Banjir Telah Surut, Kita Tak Boleh Larut

Oleh : Safinatul Husna
Pemerhati Masalah Sosial

Siapa yang ingin tertimpa musibah? Tentu tak ada orang yang menghendakinya meski musibah kecil sekalipun. Namun apalah daya ketika alam sudah tak lagi bersahabat karena dirubah oleh tangan-tangan yang haus akan indahnya dunia. Akhirnya musibah itu pun datang tak terduga.

Hal biasa terjadi ketika musim hujan. Banjir dimana-mana hingga menggenangi jalan. Namun banjir tahun ini bukan banjir biasa. Bahkan disebut banjir terparah sepanjang tahun. Banjir besar yang melanda tak hanya merendam ribuan rumah rumah warga, namun juga telah menelan korban jiwa. Nyaris seluruh wilayah di Kalsel tersapu banjir. Banjir terparah terjadi di Kabupaten Banjar, Tanah Laut dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Dikutip dari kompas.com. Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja menegaskan bahwa curah hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir jelas berdampak dan menjadi penyebab banjir secara langsung. Kendati demikian, masifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus juga turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini. Bencana semacam ini terjadi akibat akumulasi dari bukaan lahan tersebut. Fakta ini dapat dilihat dari beban izin konsesi hingga 50 persen dikuasai tambang dan sawit.

Dari tahun ke tahun luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar. Antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun.

Direktorat Jenderal Perkebunan (2020) mencatat, luas lahan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan mencapai 64.632 hektar.

Untuk jumlah perusahaan sawit, pada Pekan Rawa Nasional I bertema Rawa Lumbung Pangan Menghadapi Perubahan Iklim 2011, tercatat 19 perusahaan akan menggarap perkebunan sawit di lahan rawa Kalsel dengan luasan lahan mencapai 201.813 hektar.

Mongabay melaporkan, delapan perusahaan sawit di Kabupaten Tapin mengembangkan lahan seluas 83.126 hektar, empat perusahaan di Kabupaten Barito Kuala mengembangkan sawit di lahan rawa seluas 37.733 hektar, tiga perusahaan sawit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan luasan 44.271 hektar, dua perusahaan di Kabupaten Banjar dengan lahan sawit seluas 20.684 hektar, kemudian, di Kabupaten Hulu Sungai Utara ada satu perusahaan dengan luas 10.000 hektar dan di Kabupaten Tanah Laut mencapai 5.999 hektar.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia.

Jefri pun menjelaskan mengenai jumlah perluasan lahan pertambangan.

Berita Lainnya
1 dari 215

“Sedangkan untuk tambang, bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013 ialah 54.238 hektar,” tambah Jefri.( Kompas.com 15/1/2021)

Hentikan yang Membuat Banjir

Prihatin terhadap kondisi warga yang tertimpa bencana. Lebih sesak lagi menyaksikan kerusakan alam yang disengaja. Allah SWT tak pernah salah menurunkan hujan. Karena hujan adalah bagian dari rahmat yang dicurahkan. Namun ketika daerah resapan air telah beralih fungsi, maka jadilah hujan petaka yang tak bisa dihindarkan.

Melihat data perluasan lahan sawit dan tambang, tentunya bisa kita perkirakan seberapa luas sisa hutan Kalimantan yang dulu jadi kebanggaan. “Paru-paru dunia” itu, kini sudah lemah hampir tak berdaya untuk diandalkan. Terkikis oleh aturan kapitalis yang masih diterapkan. Sistem yang memberikan kemudahan para pengusaha untuk terus menerus mengeruk sumber daya alam. Aturan hidup yang lebih mementingkan keuntungan tanpa peduli dampak jangka panjang.

Sekarang kita sudah merasakan seberapa besar musibah yang diakibatkan karena pengelolaan lahan dan tambang yang tak seimbang. Hutan yang harusnya bisa menahan banjir datang kini rapuh tak lagi kokoh. Pohon yang tinggi menjulang sulit didapatkan. Gunung-gunung sudah banyak disulap menjadi jurang.

Kalimantan punya pesona yang begitu menyilaukan karena kaya sumberdaya alam. Akal sehat terbius tak mampu lagi menimbang keadilan. Nurani pun terkikis oleh keserakahan. Akibat aturan yang jauh dari Tuhan.

Ya. Kapitalisme yang tak kenal Pancasila, lebih suka memilih investasi murah. Rencana yang mestinya menghiraukan perilaku iklim seratus tahun, diabaikan. Hak Guna Usaha mereka cuma 30 tahun. Belum tentu diperpanjang. Jadi selebihnya itu bukan urusan mereka. Kita hanya kebagian dampaknya.

Banjir besar yang melanda seharusnya menjadi pelajaran. Sebagaimana Allah swr sudah memperingatkan dalam firman-Nya : “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah SWT)”. (QS ar-Rum : 41).

Banjir besar yang telah dialami memang sudah surut. Namun bisa jadi akan terulang lagi jika kerusakan alam masih terus dibiarkan. Untuk itu kita tak boleh larut dengan keadaan sekarang. Segera stop liberalisasi. Aturan pengelolaan sumberdaya alam harus segera dibenahi dengan kembali pada aturan lllahi. Yaitu dikelola untuk kemaslahatan umat.

Karena itu, kunci untuk mengakhiri segala musibah tidak lain dengan mencampakkan akar penyebabnya, yakni ideologi dan sistem sekularisme-kapitalisme. Berikutnya, terapkan ideologi dan sistem yang telah Allah SWT turunkan. Itulah ideologi dan sistem Islam. Dengan kata lain, terapkan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Termasuk dalam pengelolaan lahan/tanah, sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya