Belajar dari Banjir

Oleh : H. Ahdiat Gazali Rahman.
Pemerhati Sosial Politik dan Hukum

Banjir bukan hantu atau gendorowo yang datang tak diundang pulang tak diantar, tapi banjir akan hadir sesuai dengan undangan mahluk. Siapa yang mengundang banjir ia adalah manusia dengan berbagai profesi. Jika dulu banjir selalu dikatakan karena penebangan hutan atau penggundulan hutan, penambangan liar, sebuah hasil kerjasama antara penguasa dengan pengusaha, namun sekarang itu kurang tepat, karena pengundang banjir bukan hanya terbatas para pengusaha hutan dan tambang, perkebunan, pertanian yang membuka lahan, walaupun ada benarnya tapi ada lagi pengundang banjir yang jauh lebih seru.

Data Pengundang Banjir

Diakui di Indonesia, pengalihan hutan dipakai untuk keperluan pembangunan industri, terutama industri minyak sawit, kertas dan tambang yang pada dua dekade terakhir mengakibatkan kerusakan yang sangat mengkhawatirkan. Pernah pada tahun 2011, Kementerian Kehutanan memperkirakan sekitar 1,2 juta hektare hutan Indonesia hilang setiap tahunnya. Hilangnya hutan ini hampir setara dengan luas Pulau Bali. Diperkirakan puncak kerusakan hutan terjadi pada tahun 1997-2006 yang mencapai sekitar 3,5 juta ha per tahun. Pada rentang tahun 2000-2009, Indonesia kehilangan hutan alam seluas 1,4 juta ha/tahun. Pada periode selanjutnya (2009-2013) luasan hutan alam yang hilang berkurang menjadi 1,1 juta ha/tahun dan kembali naik pada periode 2013-2017 menjadi 1,4 juta ha/tahun.

Tanah Surqa Kebanjiran

Allah telah memberikan fasilitas alam yang sangat baik bagi bangsa ini, sehingga seorang seniman kelompok Bimbo pernah mendendangkan lagu bahwa Indonesia adalah syurqa, dengan judul lagu “kolam Susu” dalam satu bait syairnya mengatakan “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, orang bilang tanah kita tanah surqa, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Jika melihat banua yang memiliki tambang dan hutan, ada yang cuma tempat lalu lintas hutan dan tambang, karena alamnya tak mempunyai kandungan dan tanaman hutan, namun ketika banjir semua menikmati/merasaakan. Pertanyaan kenapa? Hal ini jika dihubungkan dengan keadaan yang terjadi di awal tahun 2021, tidak hanya menimpa daerah yang punya alam (hutan dan tambang) tapi juga daerah yang tidak punya tembang, hutan, seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara, Barito Kuala, Banjarmasin dan Banjarbaru. Daerah tersebut tak ada pertambangandan dan tak ada hutan, kenapa bisa mendapatkan banjir?

Sesuatu yang harus dipelajari, diamati, bahkan kalau perlu dilaksanakan penelitian, agar di kemudian hari banjir tidak terjadi. Kejadian itu juga menggeser, bahkan merubah anggapan bahwa banjir hanya karena penebangan hutan dan karena pertambangan.

Sifat Air menurut Hukum Allah

Berita Lainnya

Cara Islam Wujudkan Kemandirian Pangan

Jaminan Islam Terhadap Keimanan dan Keberagaman

1 dari 213

Sifat air menurut hukum Alam (Sunnatullah) adalah mencari tempat yang rendah, dari dulu, kini dan akan datang karena itu merupakan keputusan Allah, tidak ada seorang hambapun mampu merubah, jika hamba mengeluh, bukan merubah sifatnya hanya sementara, suatu saat air pasti kembali kepada sifat aslinya, yakni mencari tempat yang rendah. Pertanyaannya sudahkah penguasa, pengusaha dan masyarakat menolong air agar air kembali kepada hakikatnya, yakni tempat rendah, atau berlaku sebaliknya tempat rendah justru dirubah menjadi tempat tinggi, mungkin karena menumpukan sampah, sehingga selokan, sungai atau bahkan laut menjadi dangkal.

Seberapa banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat agar saluran air, sungai, laut tetap berfungsi sebagai penampungnya, sehingga diharapkan tidak meluber ke daerah penduduk, kota, desa, sawah dan tempat usaha masyarakat, seberapa jauh upaya pengusaha dalam kegiatan usahanya berjuang agar segala sesuatu yang berhubungan dengan air, tetap dipertahankan, air tetap berfungsi sebagai sumber daya alam yang harus menempati tempat rendah.

Sudahkah tempat usaha memberikan tempat yang baik bagi air agar tetep berada daerah terendah, agar air tidak meluber apalagi menyebar ketempat lain, sehingga dapat mengganggu mahluk lain umumnya dan manusia khususnya. Penguasa sudahkah memperhatikan daerah rendah agar tetap lesteri, seberapa besar peran penguasa daerah dan negara memperhatikan habitat air, dengan upaya tetap mempertahankan air tetap berada ditempatnya, yakni daerah rendah.

Berapa banyak sosialisasi dilakukan penguasa kepada warga agar air tetap bisa mengalir menuju tempatnya, dengan himbauan, “Jangan buang sampah di selokan, di sungai, di laut”. Berapa banyak upaya pelestarian hutan, tanah, sungai dan laut dilakukan, dengan sedikit hemat mengeluarkan izin penebangan hutan, izin penembangan tanah, tidak membari izin bangunan yang dapat mengganggu jalannya air, seperti mendirikan bangunan di sungai sehingga air menjadi terhambat menempati tempatnya, apalagi menyebabkan sungai mampet (sungai menjadiberalih menjadi daratan, karena dipenuhi oleh bangunan).

Peran penguasa sangat besar dan menjadi cermin dalam mengatasi banjir ini, karena selala ini sungai sebagai tempat akhir dari air, sengat tidak diperhatikan, kita dapat dengan mudah menemukan banyaknya sungai yang beralih fungsi karena kebijakan penguasa, ada yang jadi jalan, ada yang tempat hunian, tempat usaha dll, sehingga fungsi sungai tidak lagi sebagai tempat akhir dari air.

Harapan

Saatnya penguasa membuat sebuah regulasi tentang fungsi selokan, sungai dan laut, agar kembali keasalnya sebagai tempat tinggal air, memprogramkan pelestarian hutan, tanah, sungai, laut, khusus untuk sungai dan laut, setiap tahun mengupayakan pengerukan (normalisasi) sungai dan laut, agar tempat terakhir air itu benar-benar tersedia, jika memang ada hujan yang cukup banyak, jika memang sudah terlanjur adanya pengalihan sungai menjadi tempat usaha, tempat tingga, jalan, maka mulai saat ini dimohon menata kembali kawasan hunian, usaha, yang menyebabkan air tak dapat menempati tempat yang harusnya. Fungsi sungai, laut dikembalikan kehabitan yang sebenarnya untuk menampung air.

Saatnya mayarakat sadar bahwa kawasan rendah adalah milik air, sehingga berpikir, berniat, tidak akan melakukan pembangunan di tempat tersebut. Jika terlanjur melakukan pembangunan di tempat air, maka dengan rela hati untuk mengembalikan kawasan tersebut pada fungsi yang sebenarnya, yakni tempat air.

Pengusaha tambang, hutan, hendaklah jangan berpikir keuntungan semata tapi berpikir bagaimana nasib, hutan, tanah dan masyarakat sekitar, jika karena usaha mereka alam dan masyarakat sekitar akan menerima resiko seperti sekarang ini, yakni kebanjiran. Tentu dihindarkan sejauh mungkin. silahkan berusaha tapi jangang mendatangkan kerugian pada orang lain, lingkungan alam dan makhluk lainnya.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya