Menumbuhan Kesadaran Intergenerational Equity Masyarakat

Oleh : MHD. Natsir Yunas
Dosen Jurusan PLS FIP UNP/Kandidat Doktor Pendidikan Masyarakat UPI Bandung

Pada prinsipnya pembangunan tidak hanya ditujukan bagi manusia yang hidup saat ini, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang. Setiap aktivitas pembangunan harus memenuhi hajat hidup masyarakat secara berkelanjutan. Ekploitasi sumber daya alam dengan alasan pembangunan dan memenuhi tuntutan ekonomi harus dijalankan untuk kesejahteraan bersama dan masa depan. Karenanya kerusakan alam yang diakibatkan oleh oknum di beberapa daerah dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup tidaklah dibenarkan. Apalagi eksploitasi tersebut dijalankan tanpa memenuhi standar keberpihakan kepada alam dan lingkungannya. Kebanyakan lebih berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan individu dan kelompok semata.

Eksploitasi sumber daya alam dengan alasan ekonomi seharusnya tidak melupakan kewajiban untuk menjaga alam sebagai warisan bagi generasi mendatang. Oleh sebab itu, perlu dibangun kesadaran untuk terciptanya keadilan antar generasi (intergenerational equity) dalam setiap proses pembangunan. Kesadaran bahwa kekayaan alam yang dinikmati saat ini, harus bisa diwariskan untuk generasi yang akan datang. Sehingga masing-masing individu masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memelihara alam dan menjaganya dari segala tindakan yang merusak.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memahami kekayaan alam ini sebagai amanah yang harus diwariskan bagi generasi mendatang (intergenerational equity)?. Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, pertama, menumbuhkan kesadaran individu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya alam bagi kehidupan. Hal ini dapat dilakukan oleh pemerintah, bekerjasama dengan pemuka masyarakat di daerah setempat. Terkadang masyarakat hanya dimanfaatkan oleh oknum pemilik modal. Dalam hal ini tindakan masyarakat lebih bersifat pragmatis. Kalau pekerjaan tersebut bisa menghasilkan uang untuk makan, maka mereka akan dengan senang hati melakukan apapun tanpa berfikir akibat dari perbuatannya.

Dalam beberapa kasus kerusakan hutan yang dirugikan adalah masyarakat, sedangkan yang mengambil keuntungan adalah si pemiliki modal. Ketika terjadi banjir, longsor dan bencana alam lainnya yang merasakannya adalah masyarakat sekitar. Bahkan di saat terjadinya penangkapan yang menjadi sasaran tetap oknum masyarakat, yang terkadang hanya sekedar mendapatkan sesuap nasi atau uang untuk memberi jajan anaknya ketika pergi ke sekolah. Oleh sebab itu perlu dibangun kesadaran dari individu masyarakat yang berdekatan dengan wilayah sasaran eksploitasi alam. Sehingga mereka bisa mencegah terjadinya kerusakan alam, sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungannya.

Berita Lainnya
1 dari 292

Kedua, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengolahan kekayaan alam untuk meningkatkan ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki wilayah tersebut. Baik itu potensi sumber daya alam, terlebih lagi potensi kemampuan yang dimiliki oleh masyarakatnya. Masyarakat sekitar harus diberdayakan agar mereka tidak tergiur melakukan tindakan-tindakan yang bersifat pragmatis. Larangan tidak akan berarti, apabila kebutuhan ekonomi mereka tidak terpenuhi. Dalam hal ini perlu melibatkan perguruan tinggi dan dunia usaha untuk melakukan analisis kebutuhan dan pendampingan terhadap masyarakat dalam memeningkatkan ekonomi mereka.

Ketiga, memberikan tindakan tegas kepada oknum masyarakat yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Baik itu mereka yang melakukan eksekusi di lapangan, maupun si pemilik modal. Tindakan hukum harus dilakukan sejak dari awal, bukan menunggu pelanggaran semakin banyak. Ketika kelompok masyarakat yang melanggar semakin banyak, maka mereka akan merasa kuat dan akan sulit ditertibkan.

Keempat, meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Kepedulian ini dapat diwujudkan terhadap masyarakat yang sedang ditimpa bencana. Bentuk kepedulian dapat diwujudkan dengan memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh para korban. Kepedulian terhadap sesama menjadi landasan dalam mewujudkan kesadaran akan keadilan antar generasi (intergenerational equity) masyarakat, untuk mewariskan kondisi alam yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Karena mereka juga berhak untuk mendapatkan alam yang lebih baik dari manusia yang hidup saat ini. Oleh sebab itu kepedulian kepada sesama dan lingkungan menjadi dasar menggerakkan masyarakat untuk berbagi dengan orang lain.

Kelima, melakukan tindakan kreatif sebagai upaya perbaikan terhadap kerusakan yang sudah terjadi. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan kembali penghijauan di areal bekas tambang dan hutan yang rusak. Bahkan di beberapa daerah lahan bekas tambang dikelola menjadi tempat wisata. Dengan pengelolaan yang profesional, akhirnya lahan bekas tambang bisa meningkatkan ekonomi dari masyarakat sekitar.

Kesadaran untuk mewariskan kondisi alam yang lebih baik bagi generasi berikutnya juga sudah diajarkan dalam agama. Bahkan Rasulullah Saw berpesan agar umatnya gemar menanam sekalipun ia tahu esok akan kiamat. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa, “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah”. (HR. Bukhari & Ahmad).

Semoga kesadaran dari setiap individu masyarakat untuk memahami dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan alam semakin meningkat. Diberi kemampuan untuk mewariskan sumber daya alam yang dinikmati saat ini kepada generasi mendatang. Karena kepedulian generasi yang hidup saat ini sangat menentukan kualitas kehidupan masyarakat di masa yang akan datang. Wallahu ‘alam bish shawab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya