Revitalisasi Tradisi Magrib Mengaji

Oleh : Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag.
Penulis Buku Pola Asuh Orangtua dan Komunikasi dalam Keluarga
Upaya Membangun Citra Membentuk Pribadi Anak

Kini tradisi mengaji menurun. Tidak seramai dulu, dibaca antara Maghrib dan Isya. Seingat saya, ketika saya di Kotabaru (1970-an), hampir setiap rumah saya mendengar masyarakat mengaji meski dengan penerangan memakai lampu teplok. Bahkan, jika ada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) meskipun jauh masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Tak peduli naik sepeda atau jalan kaki.

Pertanyaannya adalah kenapa tradisi Maghrib mengaji menurun? Akar penyebabnya adalah rendahnya kemampuan masyarakat membaca Alquran. Hal ini berdasarkan temuan hasil penelitian yang telah dilakukan berbagai pihak. Survei melek Al Qur’an di Banten dari 1.500 responden menemukan kemampuan membaca Al Qur’an masyarakat 87,6 persen. Dari jumlah ini, tingkat kemampuan rendah 26,67 persen, sedang 50,05 persen, tinggi 23,28 persen. Sedangkan intensitas masyarakat membaca setiap hari hanya 24,18 persen. Pernah khatam Alquran sebesar 60,80 persen. (https://www.lptqbanten.org/hasil-survei-melek-alquran-di-banten).

Penelitian organisasi pemuda Islam dan tokoh-tokoh pemuda Islam menemukan umat Islam buta aksara Al Qur’an. Dari 273.500.000 penduduk, ada 229 juta (87,2 persen) orang Islam, ditemukan 35 persen bisa membaca Al Qur’an, 65 persen buta aksara Al Qur’an (https://ikilhojatim.com/hasil-penelitian-baca-al-quran).

Penelitian Majalah Al-Furqon terhadap sekelompok acara Yasinan Mingguan menemukan sebagian besar anggotanya hanya hapal surah Yasin, tidak bisa membacanya ketika disuguhi Alquran. Begitupun warga Banjar, banyak yang hapal surah Yasin. Lebih sering membaca Yasin daripada membaca Alquran. Ini karena adanya anggapan yang belum terkoreksi, membaca Yasin sama dengan membaca seluruh isi Al Qur’an. Atau jangan-jangan, penyebabnya banyak warga Banjar yang tidak bisa mengaji sehingga tidak mengaji. Ini hanya dugaan. Semoga salah. Tapi, ketika Muqadam (setiap orang membaca satu juz) dalam acara selamatan, banyak yang hanya berhadir atau pura-pura membaca untuk mengatasi rasa malu.

Temuan penelitian ini tidak bisa dibiarkan, harus ditindaklanjuti. Gerakan bersama antara pemerintah, sekolah dan keluarga dengan mengambil langkah-langkah strategis harus dilakukan dalam upaya memperkecil kelemahan tersebut sehingga revitalisasi (menghidupkan kembali) membaca Al Qur’an di masyarakat akan terwujud.

Melalui pemerintah. Data tentang kelemahan umat Islam tersebut di atas telah direspon oleh pemerintah. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI (Kemenag RI) telah mengeluarkan kebijakan terkait menghidupkan kembali masyarakat gemar membaca Al Qur’an. Ada tiga program kebijakan yang telah dicanangkan, yaitu menggelorakan program gemar mengaji, revitalisasi peran lembaga pendidikan Al Qur’an, dan pendataan guru mengaji. Untuk program gemar mengaji, Kemenag hendaknya bekerjasama dengan Kemendikbudristek dalam pelaksanaannya. Setiap jenjang pendidikan dari kedua lembaga tersebut punya tugas dan tanggung jawab melaksanakan program gemar mengaji di sekolah/madrasah.

Berita Lainnya
1 dari 267

Program nasional ini dicanangkan mulai tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga seluruh pelosok dan kampung. Kita tentu saja menyambut baik program Maghrib Mengaji di Kota Banjarmasin yang telah digagas oleh Ibnu Sina. Karena, meskipun bukan orang Depag, apa yang dilakukan Wali Kota Banjarmasin ini sejalan dengan program Kemenag. Tetapi, gerakan ini belum cukup ampuh tanpa dukungan sekolah dan institusi keluarga.

Melalui sekolah. Dalam upaya mendukung program Kemenag tersebut, lembaga pendidikan seperti MI/sederajat, MTs/sederajat dan Aliyah/sederajat hendaknya menindaklanjuti kebijakan terebut. Ada dua kebijakan yang bisa dilakukan, yaitu program gemar mengaji di sekolah dan program Maghrib mengaji di rumah bagi siswa.

Program gemar mengaji di sekolah hendaknya dikemas dalam bentuk tadarus Al Qur’an, pagi sebelum memulai pelajaran. Program ini akan berhasil jika semua guru terlibat dalam kegiatan bimbingan dan pengawasan. Bila perlu, pihak sekolah menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Misalnya, menjalin kerjasama dengan lembaga TPA (Taman Pendidikan Alquran) atau LPTQ untuk mendapatkan para qori dan qoriah bermutu. Jangan lupa, adakan kompetisi membaca Al Qur’an.

Program Maghrib mengaji di rumah dilaksanakan setiap malam sesudah salat Maghrib. Pelaksanaannya bekerjasama dengan orangtua. Tugas orangtua sebagai pengawas sekaligus pembimbing, mengaji bersama anak. Lewat Buku Kendali yang diberikan pihak sekolah, orangtua bertugas memberi centang atau komentar pada kolom-kolom yang tersedia sesuai dengan aktivitas mengaji yang telah anak lakukan.

Melalui keluarga. Dalam keluarga, penggerak utama untuk menghidupkan kebiasaan Maghrib mengaji adalah orangtua. Ini berarti kebiasaan Maghrib mengaji harus dimulai dari orangtua. Anak akan menuruti jika orangtua mengaji. Setiap hari membaca satu halaman sudah cukup daripada membaca tiga lembar tetapi tiga hari alpa mengaji. Kebiasaan mengaji orangtua ini, disadari atau tidak, pasti akan diikuti oleh anak. Apalagi jika diperintah atau diajak.

Ajakan ini hendaknya dilakukan oleh orangtua terhadap anak yang malas mengaji. Mengajarinya bila belum bisa mengaji. Kita menyayangkan, orangtua yang hanya pandai menyuruh anak mengaji sementara dia sendiri tidak pernah mengaji. Yang memilukan, ada orangtua yang membiarkan diri sendiri tidak bisa mengaji atau selalu salah membaca aksara Alquran tapi malu belajar. Sebaiknya enyahkan rasa malu kuatkan minat untuk belajar mengaji? Kalau malu dengan orang lain, belajar mengaji dengan anak bisa dilakukan sesudah Maghrib. Satu kegiatan dua tujuan. Kemampuan mengaji dimiliki, juga ikut serta upaya menghidupkan kembali Maghrib mengaji.

Akhirnya, mukjizat Al Qur’an itu luar biasa. Alangkah indahnya rumah yang selalu dihiasi lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Hati yang resah gelisah jadi tenang. Ibarat air, Al Qur’an itu mendinginkan. Ibarat udara, Al Qur’an itu menyejukkan. Pertengkaran terhenti, ketenteraman terasa di hati karena mukjizat Al Qur’an. Maka dari itu, daripada memajang ayat-ayat Al Qur’an di dinding atau menjadikannya Jimat lebih baik membacanya. Bukankah ujar Nabi “Orang yang rongga dadanya kosong dari Alquran seakan-akan rumah yang tidak berpenghuni”. (HR. Turmuzi). Wassalam

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya