Oleh : Siti Rahmah, S.Pd
Pemerhati Masalah Keagamaan
Rajab merupakan satu dari empat bulan suci. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kami dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At-Taubah : 36)
Setahun berputar sebagaimana keadaan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Satu bulan lagi adalah Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal Akhir dan Sya’ban (HR Bukhari no 3197 dan Muslim 1679)
Ada beberapa peristiwa penting pada Rajab. Diantaranya, Allah mengingatkan agar pada bulan tersebut jangan sampai terjadi pertumpahan darah, kecuali jika muslim diserang lebih dahulu apalagi menghina ajaran Islam. Kemudian, peristiwa turunnya perintah salat saat Isra Mi’raj. Hal itu terjadi pada 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian, atau sebelum Rasul hijrah ke Madinah.
Peristiwa Tabuk pun terjadi pada Rajab. Tepatnya pada tahun kesembilan setelah hijrah. Rasul berangkat bersama 30 ribu pasukan saat musim panas hingga pasukan merasakan hal yang sangat sulit dalam menempuh perjalanan. Pasukan ini pun disebut Jaisyul Usrah karena merasakan kesulitan saat perang. Kaum muslimin meraih kemenangan dalam perang tersebut.
Pembebasan Baitulmaqdis juga terjadi pada bulan Rajab, tepatnya 28 Rajab 583 H atau 2 Oktober 1187. Salahuddin al-Ayubi berhasil membebaskan Al-Aqsha, merebut kembali kota suci tiga agama tersebut. Sebelumnya, Palestina berada dalam kekuasaan tentara Salib usai Perang Salib I.
Namun, kini Baitulmaqdis dalam kendali kafir penjajah. Kaum muslim terus dalam intaian, penindasan, penderitaan, bahkan untuk menjalankan ibadah salat di halaman Masjidilaqsa mereka diawasi tentara Israel lengkap dengan persenjataannya. Hingga saat ini pun rakyat Palestina terus digusur dari pemukiman mereka karena Israel merampas tempat tinggal penduduk Palestina dengan keji.
Terakhir, peristiwa runtuhnya Khilafah terjadi pada 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924. Negara Islam yang menguasai 2/3 dunia berakhir dan resmi dihapuskan oleh pengkhianat Mustafa Kemal Ataturk. Keruntuhan Khilafah benar-benar telah membuka pintu keburukan bagi umat Islam. Negeri-negeri Islam tercerai-berai dan harta kekayaan mereka dijarah. Kehidupan anak dan kaum perempuan jauh dari kemuliaan. Datangnya Rajab semestinya menjadi momentum tepat untuk merenungkan kembali sejarah umat Islam dan mengambil ibrah tentang yang semestinya dilakukan.
Keruntuhan khilafah benar-benar telah membuka pintu keburukan bagi umat Islam. Negeri-negeri Islam tercerai-berai, masuk dalam cengkeraman penjajahan. Harta kekayaan mereka dijarah, kehormatan mereka dilanggar, pemikiran dan budaya mereka pun dirusak.
Betapa tidak, negeri-negeri yang dulunya diatur dengan Islam, justru berkhidmat melanggengkan UU dan sistem hidup warisan penjajah. Sistem politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, persanksian, dan hankam, semua meniru dan membebek aturan-aturan Barat.
Wajar jika identitas dan kepribadian mereka tak mencirikan individu dan masyarakat Islam. Bahkan individu, keluarga, dan masyarakat di negeri-negeri muslim jauh dari gambaran khairu ummat (sebaik-baik umat) sebagaimana predikat yang Allah sematkan.
Dengan aturan hidup sekuler, umat Islam dan negaranya alih-alih bisa hidup damai sejahtera sebagaimana saat khilafah dulu tegak, yang terjadi justru umat ditimpa krisis di berbagai bidang kehidupan. Termasuk krisis politik, ekonomi, dan moral hingga taraf yang mengerikan.
Semua ini menjadi bukti atas firman Allah SWT, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha : 124).
Penerapan sistem sekuler kapitalisme neoliberal memang terbukti membawa kemudaratan luar biasa. Kemiskinan, ketidakadilan, gap sosial, kekerasan, perbudakan, kezaliman, dan sejenisnya menjadi potret buram mayoritas masyarakat, termasuk kaum perempuan dan anak-anak di berbagai belahan dunia.
Tak jarang kedua entitas ini dikapitalisasi hanya demi memutar roda perekonomian sebuah negara. Alih-alih dijamin hak finansial dan keamanannya, kaum perempuan dan anak justru terjebak dalam kemiskinan struktural yang diciptakan sistem kapitalisme global dan dikukuhkan penguasa. Sementara kemiskinan biasanya berdampak pada problem sosial lain, seperti kebodohan, gap sosial, kekerasan, kriminalitas, dan sebagainya.
Yang miris, dalam situasi ini kaum perempuan justru diperdaya oleh proyek-proyek pemberdayaan dengan dalih demi meningkatkan kesejahteraan keluarga. Efeknya, perempuan memikul beban ganda yang membuat tugas utamanya tak berjalan secara optimal. Tingkat stres juga meningkat, sementara interaksi mereka dengan anak makin berkurang.
Tak heran jika generasi umat Islam makin tak jelas warna. Mereka tumbuh dalam keluarga dan masyarakat yang tak mendukung terbentuknya pribadi-pribadi istimewa sebagaimana yang diinginkan Islam. Yakni generasi berkepribadian Islam yang siap memimpin peradaban cemerlang pada masa depan.
Sebagian perempuan dan anak di belahan bumi yang lain malah harus berjibaku melawan kezaliman rezim penguasa. Di Palestina, Yaman, Uighur, Rohingya, India, dan Kashmir, kaum perempuan dan anak diuji dengan kehidupan yang sangat berat. Tak ada yang mampu menolong mereka, meski umat Islam di dunia jumlahnya sangat banyak.
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa pada era ini kaum perempuan dan anak di berbagai negeri Islam benar-benar hidup dalam kondisi terburuk. Semua adalah karena ketiadaan institusi khilafah pelindung dan pemersatu umat yang runtuh seabad lalu pada bulan Rajab.
Berbeda jauh dengan saat khilafah tegak, semuanya terjamin hingga tumbuh kembang anak dan fungsi politis-strategis kaum perempuan sebagai pencetak generasi cemerlang bisa berjalan dengan sempurna. Tak heran jika peradaban emas Islam mampu tegak selama belasan abad.
Datangnya bulan Rajab semestinya menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali sejarah umat Islam dan mengambil ibrah tentang apa yang semestinya dilakukan. Nyatanya, pada masa lalu, bulan ini menjadi pembatas yang jelas antara kondisi umat dalam naungan khilafah dengan kondisi umat tanpa naungan khilafah.
Begitulah kemuliaan Rajab di mata Islam dan kaum muslim dari dulu, kini, hingga hari kiamat. Namun, kemuliaan Rajab yang begitu luar biasa itu telah hilang seiring dengan hilangnya pemahaman dan kesadaran umat akan kemuliaan bulan ini, terutama setelah Islam telah dibuang dari kehidupan sejak Khilafah Utsmani dihancurkan oleh Kemal Attaturk bersama Inggris dan Perancis pada 28 Rajab 1351 H/1924 M.
Islam kafah dalam bingkai Khilafah sudah Allah janjikan. Umat Islam bertugas untuk melaksanakan dan berusaha mewujudkannya sebagai bentuk ketaatan atas seruan Allah (lihat QS Al-Baqarah: 208).
Agar tujuan itu terlaksana, perlu usaha yang besar, juga pengorbanan dan keikhlasan seperti para sahabat terdahulu yang menemani Nabi menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Allah SWT juga telah memberikan kabar gembira bagi kaum muslim yang ingin berjuang untuk mewujudkan ketaatan secara sempurna, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung”. (QS. At Taubat : 111).
Dengan demikian, sebagai umat Nabi yang taat, seyogianya memaksimalkan diri berusaha mewujudkan Islam secara kafah. Mulai dari melangitkan doa, hingga menyampaikannya dalam setiap dakwah.
Dengan izin dan pertolongan Allah, ada jemaah di antara umat Nabi-Nya yang terus-menerus berjuang siang dan malam untuk menghidupkan kemuliaan Rajab. Berjuang dan melipatgandakan perjuangannya untuk mengembalikan tegaknya kembali Khilafah, terutama di bulan haram ini. Semuanya itu dilakukan karena kesadaran akan kondisi umat ini, bagaimana penderitaan yang dialaminya, serta solusi apa yang seharusnya mereka ambil. Wallahua’lam












