PHK Menganncam WNI, TKA Melenggang

Oleh : Ummu Wildan
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Siapakah yang tak takut kena PHK? Kebanyakan orang tidak ingin mengalami PHK. PHK berarti kehilangan penghasilan tetap. Ia juga berarti kehilangan pekerjaan dan lingkungan yang selama ini terbangun. Ia memaksa orang untuk terlepas dari zona nyamannya.

Maka tak jarang kita menjumpai orang yang stress setelah mengalami PHK. Begitupun berita bunuh diri salah satu penyebabnya adalah depresi setelah diberhentikan dari tempat kerja.

Namun yang patut disayangkan PHK begitu menjamur ibarat cendawan di musim hujan. Hingga hari ini sudah lebih dari 80 ribu orang selama 2022 ini yang mengalami PHK. Jumlah ini pun akan terus bertambah seiring ekonomi dunia yang semakin memburuk.

Indonesia disebut mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yaitu 5,72 persen. Hanya saja Indonesia bukanlah negara mandiri. Merosotnya ekonomi Amerika dan China berdampak signifikan bagi Indonesia. Misalnya saja dalam hal ekspor. Sejumlah pabrik tekstil di Jawa Barat terpaksa tutup karena pembatalan ekspor.

Demikian nasib industri padat karya berdampak pula bagi pekerja. Perusahaan terpaksa melakukan rasionalisasi. Akibatnya pekerja yang merupakan bagian dari faktor produksi terpaksa dikurangi.

Di sisi lain, tenaga kerja asing mendapatkan angin segar lewat Undang-Undang Omnibus Law. Mereka tak wajib lagi mengantongi izin untuk bisa bekerja di negeri ini. Terlebih jika terkait kerjasama ekonomi dengan China. Selain mendapatkan pinjaman dana dari China, pembelian bahan dan pekerja untuk proyek mereka meniscayakan harus datang dari China.

Berita Lainnya
1 dari 648
loading...

Rakyat menjadi pihak yang dituntut sumbangsihnya dalam mengatasi utang luar negeri. Mereka mendapatkan pajak dengan berbagai macam rupa. Di sisi lain lapangan pekerjaan semakin sulit mereka dapatkan.

Hal ini berbeda dengan sistem dalam Islam. Rasulullah SAW menetapkan bahwa pemerintah adalah pelindung bagi rakyatnya. “Seorang imam (pemimpin) adalah perisai, dimana rakyat akan berperang di belakangnya (mendukungnya) dan berlindung dengan (kekuasaan)nya”. Pemerintah diwajibkan mementingkan rakyat di atas kepentingan asing.

Suasana keimanan yang dibangun di kalangan penguasa dan pegawai negara akan berusaha maksimal dalam pelaksanaan tugasnya. Suatu ketika unta Baitul Mal atau harta milik negara hilang, Umar bin Khattab berjalan sendiri di bawah ancaman badai padang pasir untuk mencarinya. Begitulah contoh pemimpin dalam Islam yang takut akan perhitungan pelaksanaan tanggung jawabnya. Ia tak hanya takut dihisab di dunia, tapi juga di akhirat.

Pemerintah diharuskan mengupayakan berbagai cara agar rakyat dapat bekerja. Suatu ketika Rasulullah SAW pernah membantu rakyatnya yang tidak memiliki pekerjaan dengan membantunya menjual barang miliknya. Uangnya sebagian beliau tetapkan untuk modal, sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam kondisi hari ini, menutup pintu bagi tenaga kerja asing adalah salah satu pilihan yang bisa ditempuh. Indonesia adalah negara populasi penduduk yang luar biasa besar. Begitupun kualitas manusianya. Indonesia memiliki banyak warga negara yang berkualitas, namun sayangnya tidak sedikit dari mereka memilih bekerja di luar negeri. Pemerintah selayaknya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada SDM berkualitas agar mengabdi untuk negeri.

Pemerintah dapat menyiapkan regulasi yang menguntungkan pengusaha dan pekerja sekaligus. Misalnya terkait pengupahan yang ditetapkan berdasarkan kedua belah pihak. Pengusaha tidak akan dibebani hal-hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Misalnya saja biaya kesehatan dan jaminan sosial lainnya. Biaya kesehatan dan kebutuhan pokok komunal lainnya yang merupakan tanggung jawab negara akan diurus oleh negara tanpa perlu memberatkan pengusaha. Di sisi lain kehidupan pekerja sebagai rakyat tetap mendapatkan jaminan pemenuhan.

Pemerintah juga dapat memberikan bantuan permodalan jika dipandang genting. Islam menetapkan sumber pemasukan negara yang sangat luas. Misalnya saja dari pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan harta milik umum, zakat, infaq, sedekah, jizyah, pajak, dan sebagainya. Walaupun terpaksa berhutang, maka hutang yang mempertaruhkan kedaulatan negara tidak akan pernah diambil. Hal ini karena Islam menetapkan wajibnya menghindarkan keharaman dalam hal tersebut.

Demikianlah Islam menyajikan solusi yang komprehensif bagi masalah ketenagakerjaan hingga ke akarnya. Pengusaha untung, rakyat pun untung. Islam yang dijanjikan sebagai rahmat bagi semesta pun akan terwujud.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya