Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

MERAIH JABATAN

×

MERAIH JABATAN

Sebarkan artikel ini

Oleh : H AHDIAT GAZALI RAHMAN

Meraih, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti mencapai, adalah hendak memegang; sampai (ke); menyampaikan (maksud, tujuan, cita-cita, dan sebagainya); atau memperoleh (mendapat) sesuatu dengan usaha. Sedangkan kata jabatan sudah umum dikenal, menurut KBBI berarti penyelidikan tentang kemampuan dan kepribadian seseorang dalam hubungan dengan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

Sedangkan menurut tokoh Islam, Quraish Shihab, agama mendefenisikan jabatan itu adalah kepemimpinan bukan keistimewaan tapi tanggung jawab; ia bukan fasilitas tapi pengorbanan; ia bukan leha-leha tapi kerja keras; ia juga bukan kesewenangan bertindak tapi kewenangan melayani; ia adalah pelopor keteladanan berbuat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An Nisa : 56).

Mengingat begitu banyaknya keistimewaan yang dapat diraih melalui jabatan, tidak heran banyak orang berlomba-lomba memperebutkan kursi jabatan. Inilah yang disebut al-takatsur (saling memperbanyak), tepatnya memperbanyak pengaruh atau pengikut. Problemnya adalah jabatan di dunia ini sangat terbatas. Misalnya, hanya ada satu kursi presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, dan kepala desa. Oleh sebab itu, perebutan jabatan di dunia selalu memicu persaingan tidak sehat. Berbekal jabatan, pejabat menguasai hati rakyatnya. Dari penguasaan hati tersebut, muncul beragam kenikmatan duniawi yang diperoleh pejabat dengan mudah

Ketika pejabat terlampau nyaman duduk di atas kursi jabatan, maka sulit sekali baginya untuk melepaskan jabatan tersebut secara sukarela (legowo). Fakta sejarah sudah membuktikan begitu banyak pejabat yang tidak rela kehilangan kekuasaan, sehingga mati-matian mempertahankan kekuasaannya, sekalipun dengan cara-cara biadab, seperti yang dilaku kan Fir’aun dan Namrudz yang membunuh para bayi laki-laki. karena pada umumnya pejabat tidak rela mundur dari jabatannya, kecuali di paksa oleh keadaan atau masyarakat.

Baca Juga:  Momentum Hari Angkutan Nasional

Meskipun banyak dalam Al-Qur’an dan hadis yang secara tersurat maupun tersirat mencela jabatan, tetap saja manusia memperebutkan jabatan. Diantara Rasulullah SAW pun mengibaratkan cinta harta dan jabatan itu lebih merusak terhadap keimanan seorang muslim, diban dingkan dua serigala buas yang dilepas ke tengah kerumunan domba. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Cinta harta dan jabatan menumbuhkan kemunafikan di hati, sebagaimana air menumbuh kan tanaman (sayur-mayur)”.

Menurut Imam al-Ghazali, hal ini dikarenakan jabatan merupakan kelezatan dunia yang terbesar. Bagaimana tidak? Berbekal jabatan, pejabat menguasai hati rakyatnya. Ingin dan punya jabatan tidak dilarang, namun ada hal yang perlu diperhatikan, jika seseorang ingin atau sedang menduduki jabatan, hendaknya memperhatikan tiga perkara yakni :

Pertama, tidak perlu mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara, karena jabatan yang diperoleh secara haram, akan menghilangkan pertolongan Allah SWT. Hal ini sebagaimana hadis Nabi, “Sebaliknya, jabatan yang di per oleh secara halal, akan mengundang pertolongan Allah SWT”. (Bukhari dan Muslim).

Kedua, ketika mengemban suatu jabatan, pejabat harus berhati-hati dalam melangkah, karena peluang pejabat masuk neraka adalah dua kali lipat dibandingkan peluangnya masuk surga.

Ketiga, jika sudah waktunya menyudahi jabatan, tidak perlu dipertahankan mati-matian, karena jika pejabat tidak mau lengser secara sukarela, maka dia akan “dilengserkan” oleh Allah SWT secara paksa dengan berbagai cara yang tak terkira dan tak terduga sebelumnya.

Iklan
Iklan