Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HUKUM & PERISTIWA

Sidang Kasus Kekerasan Terhadap Murid

×

Sidang Kasus Kekerasan Terhadap Murid

Sebarkan artikel ini
BERI KETERANGAN - Taufik, pengacara terdakwa memberikan keterangan kepada awak media. (KP/HG Hidayat)

Oknum Guru PAUD Dituntut 15 Bulan Penjara

BANJARMASIN, KP – DA oknum guru yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak didiknya dituntut 15 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mahrita dari Kejaksaan Tinggi Kalsel.

JPU berkeyakinan kalau terdakwa DA bersalah melanggar Pasal 80 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak atas perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Tuntutan ini disampaikan oleh JPU Mahrita pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin yang dilakukan secara tertutup, Senin (8/7) di hadapan majelis hakim yang dipimpin hakim Suwandi.

Kasus kekerasan terhadap murid ini berlanjut ke ranah hukum setelah orang tua murid, yakni Rizka Annida Yulita melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke Polda Kalsel.

Usai sidang, panasihat hukum terdakwa Taufik kepada awak media berusaha membebaskan kliennya dari dakwaan JPU.

Hal ini, katanya, akan disampaikan pada sidang mendatang dalam nota pembelaannya.

Taufik punya keyakinan kalau kliennya tidak bersalah, tetapi semuanya ini tergantung dari majelis hakim.

Seperti diketahui, dalam dakwaannya, JPU menyebut terdakwa DA telah melakukan kekerasan fisik terhadap seorang anak.

Sebelumnya, Taufik pernah mengatakan kepada awak media bahwa saat setelah kejadian orang tua korban membawa anaknya ke tukang urut dan baru kemudian ke rumah sakit.

“Yang menjadi pertanyaan kami adalah, mengapa ketika kejadian tersebut tidak langsung dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan oleh tim medis rumah sakit?” tanya Taufik.

“Sebab kita mengetahui, pada saat dibawa ke tukang urut apakah ada kesalahan fatal sehingga tangannya korban mengalami patah tulang bahu, sebagaimana yang disampaikan oleh orang tua korban,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua LKBH PGRI Kalsel yang juga rekan seprofesi terdakwa, Drs Mukhlis Takwin SH MH sangat menyayangkan kasus yang melibatkan guru tersebut sampai berlanjut ke meja hijau.

Baca Juga:  Kemenkumham Bali Sebut WNA Jerman Bugil Alami Depresi Akut

Padahal menurutnya, seharusnya perkara tersebut dapat dimediasi atau melalui Restorative Justice (RJ).

Mukhlis menilai, perkara tersebut seharusnya diselesaikan terlebih dahulu lewat organisasi profesi yaitu Dewan Kehormatan Guru.

“Jelas peristiwa itu dalam proses pembelajaran, jadi ini masuk dalam profesi yang harus ranahnya organisasi profesi kami, melalui dewan kehormatan guru dan kami punya lembaga itu” ujarnya.

Mukhlis berharap putusan majelis hakim dapat membebaskan terdakwa dari segala tuntutan, sebab terdakwa tidak ada niatan melakukan kekerasan terhadap muridnya. (hid/K-4)

Iklan
Iklan