Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “Sultan Suriansyah Pioner Dakwah di Tanah Banjar”
Di masa-masa awal perkembangan Islam di Kalimantan, penyiar Islam yang terkenal adalah Khatib Dayyan. Diperkirakan beliau ikut pasukan Demak yang membantu Pangeran Samudra berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Negara Daha. Setelah masuk Islam dengan gelar Sultan Suriansyah, Khatib Dayyan menjadi guru spiritual sultan dan keluarga serta masyarakat Banjar umumnya.
Ada riwayat mengatakan, Khatib Dayyan juga berperan mendakwahkan Islam di Paser Sadurangas Kalimantan Timur. Penelitian tentang sejarah awal masuknya Islam di Kalimantan Timur oleh tim peneliti dari UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda menyebutkan, sebelum atau sesudah berdakwah di Kalimantan (Selatan), Khatib Dayyan berdakwah di Kerajaan Paser Sadurangas. Pada 928 H (1521 M) sebuah ekspedisi lima kapal layar dari Giri Demak dengan jumlah personel 300 orang dipimpin oleh Abu Mansyur Indra Jaya datang ke Paser. Di dalam rombongan terdapat satu orang Jawa, dua orang China, tiga orang Arab dan empat orang Gujarat (India), termasuk Khatib Dayyan. Mereka mendirikan perkampungan, perumahan dan masjid yang dinamai Masjid Dosai Tanah (Masjid Berlantai Tanah). Khatib Dayyan berhasil mendekati penguasa Paser Sadurangas, yaitu Putri Petung. Khatib Dayyan membujuk Abu Mansyur Indra Jaya untuk mengawini Putri Petung agar dakwah berjalan lancar. Setelah sang putri bersedia masuk Islam, keduanya menikah, disaksikan Aria
Manau dan Garuntung Manau.
Di masa kekuasaan Putri Petung, Kerajaan Paser Sadurangas menjadi makmur dan agama Islam menyebar pesat. Ia memerintah tahun 1516-1567 didampingi suaminya Abu Mansyur Indra Jaya sebagai ulama juru dakwah. Setelah wafat ia digantikan putranya Aji Mas Pati Indra (1567-1607). Setelah Abu Mansyur wafat, dakwah mengalami penurunan, akibatnya banyak penduduk kembali kepada kepercayaan semula. Sebelumnya Khatib Dayyan juga meninggalkan Paser menuju Kayu Tangi (Martapura) untuk berdakwah di tanah Banjar.
Selain mendirikan Masjid Sultan Suriansyah bersama sultan dan para patih (Patih Masih, Patih Balit dan lainnya), Khatib Dayyan juga mendirikan beberapa masjid hingga ke Hulu Sungai, yang belakangan menjadi masjid-masjid tua bersejarah, diantaranya Masjid Pusaka Banua Lawas dan Masjid Puain Tabalong. Beliau membangunnya bersama para datu, seperti Datu Ranggana, Datu Kartamina, Datu Seri Panji, Datu Seri Negara. Keturunan Khatib Dayyan di tanah Banjar dan Barito dapat disebut seperti Khatib Banun, Khatib Hamid, Khatib Jamain, Khatib Muhiddin dan Khatib Hamim.
Sebutan khatib untuk ulama kala itu diduga berasal dari Sumatra. Mulanya tiga ulama muda dari Minang belajar agama di Aceh, yaitu Sulaiman bergelar Khatib Sulung atau Datuk Ri Patimang, Abdul Jawad bergelar Khatib Bungsu atau Tuanku Tunggang Parangan alias Datuk Ri Tiro, dan Abdul Makmur bergelar Khatib Tunggal atau Datuk Ri Bandang. Mereka dikirim oleh Sultan Aceh untuk berdakwah ke Sulawesi (Makassar). Setelah berhasil, dua diantaranya berdakwah lagi ke Kerajaan Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.
Dakwah Kontekstual
Dulu para khatib menjadi ulama juru dakwah yang berperan menyiarkan Islam hingga ke pedalaman. Mereka merangkap peran ulama, khatib, penghulu, guru dan pemuka agama, pendiri dan pengasuh masjid serta pemimpin spiritual di masyarakat. Komitmen dan kemampuan mereka kuat dan mendalam. Dalam perkembangan kemudian, pemeran bidang agama sangat luas, ada oleh pemerintah, organisasi Islam, lembaga pendidikan dan masyarakat. Semua dituntut memiliki ilmu agama dalam beberapa aspeknya, namun terbatas sesuai bidang tugasnya.
Menurut KHM Riduan Basri atau Guru Kapuh (7 Desember 1965-11 Agustus 2021), orang-orang yang mendalam ilmunya disebut ulama, meskipun kemampuan menyampaikan dan mengajarkannya terbatas, misalnya hanya melalui pengajian di rumah dan majelis taklim. Sedangkan orang-orang yang pandai menyampaikan, meskipun ilmunya terbatas, disebut khathib atau khuthaba.
Jika diamati para ulama, khususnya kalangan tradisional, umumnya menguasai ilmu-ilmu agama, termasuk bahasa Arab (nahwu-sharafnya). Namun cara, media dan kemampuan menyampaikan terbatas. Materi dakwah sering hanya tentang tauhid, fikih, tasawuf, tafsir dan hadits. Jarang memuat materi dakwah pembangunan yang sangat luas, seperti pendidikan, kesehatan, sosial-budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup dan sebagainya. Akibatnya baru sebagian ajaran Alquran dan hadits yang tersampaikan kepada umat. Pemahaman umat terhadap agamanya belum utuh dan komprehensif.
Keadaan ini dapat dilengkapi dengan kehadiran para khatib (khuthaba), baik yang berdakwah lewat mimbar-mimbar masjid, maupun di berbagai forum ceramah. Jumlah masjid sekarang sangat banyak, di Kalsel saja lebih 2.000 buah, belum forum-forum lainnya. Kalau orang yang hadir di majelis taklim lebih terbatas di kalangan penuntut ilmu agama (thulab) saja, yang hadir di masjid-masjid saat shalat Jumat lebih bersifat umum. Karena itu khutbah Jumat perlu sekali diisi dengan materi dakwah pembangunan, supaya ajaran Islam lebih connected dengan berbagai masalah dan isu pembangunan kontemporer.
Selama ini merasakan materi khutbah Jumat kurang dan kering dari pesan-pesan pembangunan. Di saat perlunya menjaga kesehatan, kebersihan, pendidikan, ekonomi, politik kepemimpinan, pemilu yang bersih dan berintegritas dan sebagainya, masih jarang para khatib membahasnya. Hal ini tidak semata karena keterbatasan waktu khutbah, tetapi karena kurangnya komitmen, kemauan dan kemampuan.
Agama tidak saja berkaitan dengan kehidupan spiritual dan keakhiratan, tetapi juga mengatur berbagai masalah keduniaan. Dunia adalah kebun akhirat, Allah menyuruh kita berusaha dan berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Di sinilah diperlukan peran ulama, juru dakwah dan para khatib. Khutbah Jumat tidak sekadar ibadah rutin untuk menggugurkan kewajiban, di situ juga terkandung urgensi dakwah untuk pencerahan umat. Wallahu A’lam.











