Oleh : AHMAD BARJIE B
Nabiullah Ibrahim AS terkenal sangat taat kepada perintah Allah SWT, dan sayang kepada sesama manusia. Kepada Allah ia sam’an wa tha’atan, termasuk perintah untuk mengorbankan anaknya. Hal ini sudah kita ketahui bersama, sehingga syariat berqurban yang dijalankan oleh Nabi Ibrahim diteruskan oleh Nabi Muhammad dan umatnya hingga sekarang.
Kecintaannya kepada sesama manusia ditandai sikapnya yang sangat menghormati dan senang menjamu tamu, siapapun itu. Kebiasaan itu sudah lama ia lakukan, baik sewaktu masih muda dan terus menjadi kebiasaannya sampai tua. Apalagi setelah tinggal di Palestina, ia sangat kaya, ternaknya sangat banyak. Ia berkeliling mencari orang untuk diajak makan, dan sedih kalau tidak ada orang yang mau diajak makan bersama atau hanya sedikit orang. Ia baru makan kalau bersama orang banyak, dan hal itu didukung pula oleh sikap istrinya yang dermawan, senang memasak dan menjamu orang. Tanpa dukungan istri/keluarga tentu suami sulit untuk bersikap sosial. Biar ada makanan/minuman justru malah disembunyikan, atau dibiarkan tidak termakan.
Suatu kali Ibrahim kedatangan dua orang malaikat yang menyerupai manusia. Meskipun berpredikat Nabi, Ibrahim tidak tahu bahwa orang itu malaikat. Karena itu tanpa menanya, begitu kedua tamu itu datang, Ibrahim segera menyiapkan daging panggang dari seekor domba muda. Hidangan daging panggang domba muda, adalah salah satu sajian favorit di kalangan orang Timur Tengah, termasuk Rasulullah saw dan para sahabat juga menyenanginya. Sampai sekarang, panggang domba muda sangat disenangi.
Diceritakan dalam QS az-Zariyat ayat 25-30 dan beberapa tafsirnya. Pada ayat 26-27 Allah berfirman, “Maka Ibrahim pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk yang dipanggang. Lalu dihidangkannya, Ibrahim berkata: Silakan kamu makan”.
Biasanya tamu-tamu akan segera menyantap hidangan dengan lahap. Di kalangan bangsa Arab dan Timur Tengah umumnya, itu pertanda tamunya bermaksud baik. Namun kedua tamunya justru sama sekali tidak tertarik. Ibrahim jadi takut dan bertanya, mengapa kedua orang itu tidak segera makan. Mereka menjelaskan, mereka berdua bukan manusia yang memiliki nafsu (makan), melainkan malaikat yang sengaja diutus Allah swt untuk menghancurkan negeri Sodom dan Gamurah (kaum Nabi Luth) yang melakukan praktik LGBT.
Ibrahim segera menyadari posisinya dan posisi tamunya. Ia semula meminta, janganlah negeri Sodom dan Gamurah dibinasakan, sebab di sana ada Nabi Luth, yang masih ada hubungan keluarga dengan Ibrahim dan beberapa keluarganya. Namun kedua malaikat tetap bersikeras akan menjalankan tugasnya. Nabi Ibrahim menawar lagi, bagaimana kalau ada orang beriman di antaranya, misalnya 50 atau 40 atau 30 orang atau 20 orang. Malaikat tetap tegas, akan menghukumnya. Karena yang beriman tidak sampai 10 orang, yaitu keluarga Nabi Luth saja, juga istrinya termasuk yang akan dibinasakan karena tidak beriman.
Bahkan dua malaikat yang menyerupai pemuda tampan, juga ingin mereka rebut dari Luth dan akan mereka sodomi, sampai-sampai Luth minta maaf dan malu dengan tamunya itu atas kekurangajaran kaumnya. Tetapi tamunya tidak goyah, dan meyakinkan Luth bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas tamunya. Mereka yang beriman akan diselamatkan nanti akan disuruh menghindar dari itu negeri itu tengah malam, sebelum subuh, saat azab Allah akan dijatuhkan.
Setelah jelas pendirian malaikat yang tak bisa ditawar, Ibrahim tetap heran, mengapa kedua malaikat mampir ke rumahnya, tidak langsung saja bertindak membinasakan kaum Luth. Kedua malaikat menjelaskan, mereka membawa kabar gembira, bahwa Sarah akan segera hamil dan melahirkan Ishaq. Sarah dan Ibrahim terkejut bercampur gembira, sebab Sarah sudah lama menopause, usianya sudah 80 tahun, dan usia Ibrahim sudah 97 tahun. Tapi kehendak Allah tetap terlaksana, Ishaq lahir dari rahim Sarah, 13 tahun lebih muda dari Ismail.
Begitulah kisah Ibrahim, ia senang menjamu tamu, sampai-sampai malaikat yang tidak bisa makan pun mau dijamunya dengan hidangan istimewa. Sedangkan kita, jelas tamunya manusia, yang kadang kelaparan dan kehausan, tapi belum tentu disuguhi air minum atau makanan. Atau kita pilih-pilih tamu, orang kaya dan terhormat segera disuguhi makan-minum, sementara orang miskin tidak dihiraukan. Bahkan membukakan pintu pun enggan.
Bangsa Arab terkenal sebagai bangsa yang sangat menghormati tamu. Dan kita hendaknya juga bisa meneladani, dengan menghormati dan memuliakan tamu, tanpa pandang bulu, baik dengan sikap dan perbuatan, maupun dengan menghidangkan makan minum walaupun segelas air. Memuliakan tamu adalah tanda orang beriman. Sabda Rasululah saw: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya (HR Muslim). Mafhum mukhalafah (arti terbalik) hadits ini berarti orang yang tidak menghormati tamu, berarti kurang beriman, atau kehilangan salahsatu tanda dari tanda-tanda keimanannya. Wallahu A’lam.













