Oleh: Noorhalis Majid
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Menonton film dokumenter Pesta Babi, pikiran tertuju pada nasib serupa yang dialami warga pegunungan Meratus. Kalau bukan karena perjuangan warga yang begitu keras sejak awal 90-an hingga sekarang, tentu Meratus lebih dahulu sudah habis dibabat dan dibelah untuk berbagai kepentingan investor. Memori kita semua, pasti masih ingat pada para pejuang tokoh adat Meratus yang sudah berpulang, yang ketika masih hidup, mereka sangat lantang menolak eksploitasi pegunungan Meratus. Sebut saja Galimun, Zonson Maseri, Damang Udas, Damang Ayal, dan tokoh-tokoh adat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Mereka sepanjang hidupnya, lantang menyuarakan tolak eksploitasi pegunungan Meratus. Sayang, perjuangan mereka tidak dibuatkan film sebagaimana film Pesta Babi. Kalau dibuatkan filmnya, pasti tidak kalah seru.
Kalau pada film pesta babi masyarakat adat Papua mendirikan ribuan palang salib di tanah-tanah adat sebagai simbol perlawanan. Pada perjuangan masyarakat adat Meratus, simbol perjuangannya dengan ritual-ritual adat yang digelar di berbagai sudut kampung lokasi sasaran eksploitasi. Kala itu, Zonson Maseri memotong ayam hitam, sebagai bagian dari ritual adat, simbol penolakan eksploitasi Meratus. Aksi-aksi ritual adat tersebut, sangat memberi pengaruh terhadap semangat dan kesatuan masyarakat adat, untuk kompak bersama-sama berjuang.
Cerita perjuangan masyarakat adat Meratus tentu terus berlangsung hingga sekarang, sebab ancaman eksploitasi tidak pernah surut. Baik terang-terangan, maupun secara sembunyi-sembunyi. Meratus adalah harta karun tak ternilai, sebab itu selalu mengundang minat para penguasa untuk memperdagangkannya demi kepentingan pribadi.
Guna memberikan pembejalaran terhadap perjuangan warga adat di pegunungan Meratus dalam mempertahankan kelestarian ekologi, Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, setiap tahunnya selalu mengajak anak-anak muda lintasiman untuk live-in dan belajar terhadap warga di kampung-kampung di kawasan pegunungan Meratus.
Akhir tahun 2025 kemaren, pilihannya jatuh pada desa Kambiyain. Satu desa kecil yang asri, dari ribuan desa yang ada di kawasan pegunungan Meratus. Kambiyain dipilih sebagai tempat kegiatan live-in dan aksi sosial Pemuda Antariman 2025, bukan tanpa alasan. Tempat ini kali kedua, dijadikan sebagai wahana belajar mengelola keragaman bagi anak-anak muda yang diselenggarakan LK3 Banjarmasin. Selain karena warganya sangat ramah dan terbuka dalam menyambut seluruh peserta yang datang, juga benar-benar menjadi wahana yang nyata untuk belajar, memahami dan bahkan meresapi keragaman, terutama memahami pengelola kekayaan ekologi berbasis adat.
Desa ini merupakan desa adat yang terorganisir. Selain memiliki wilayah adat, lembaga adat, tokoh adat, juga memiliki sejumlah aturan adat yang berlaku dan dipatuhi dari generasi ke generasi. Aturan adat, merupakan urat nadi dalam kehidupan sehari-hari. Walau tidak tertulis, dia hidup dalam ingatan kolektif masyarakat adat. Dipatuhi sebagai pedoman hidup, bukti nyata keharmonisan hubungan antar manusia dan dengan alam semesta.
Ketika anak-anak muda dari kota datang ke desa ini, tentu menemukan sesuatu yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya. Jadilah Kambiyain sebagai laboratorium kehidupan, mengisahkan problem ekologi yang sedang terancam, diliputi kegelisahan warganya dalam menghadapi berbagai kemungkinan perubahan kebijakan yang terus menantang.
Situasi tersebut tentu menjadi pembelajaran menarik. Membuat seluruh peserta pelatihan terbuka mata, pikiran dan hatinya, bahwa di ujung kampung di kaki Meratus yang nampak tenang dan damai, ternyata menyimpan kegelisahan, sebab ada ancaman kebijakan yang terus mengusik kelestarian ekologi. Aturan adat, lembaga adat, serta segala ritual-ritual yang menjadi nafas masyarakat, seolah terus ditantang berbagai kepentingan atas nama pembangunan. Tidak ada bedanya dengan gambaran yang dipaparkan dalam film pesta babi. Kehidupan masyarakat adat di pegunungan Meratus yang damai dan harmonis dengan alam, seperti tidak dianggap sama sekali, bahkan tidak dilihat sebagai kekayaan yang tak ternilai.
Selain belajar tentang Kambiyai, para peserta pemuda yang datang dari kota tersebut, juga saling mengenal dan berinteraksi satu sama lain. Latar belakang agama, budaya, suku dan lingkungan sosial yang berbeda, tidak menghalangi mereka untuk memahami dan berdialog satu sama lain, tentang pentingnya mengelola perbedaan. Nampak sekali kerjasama dalam setiap diskusi kelompok, telah memupuk rasa persaudaraan dan solidaritas. Terutama solidaritas terhadap “ketimpangan” yang dialami pemuda-pemuda Kambiyain, atas akses, informasi dan kesempatan dalam pendidikan.
Kalau pemuda kota dapat dengan mudah mengecap pendidikan, berbeda halnya dengan pemuda Kambiyain, mereka harus berjuang super ekstra, agar dapat mencapai level pendidikan sebagaimana pemuda kota. Dengan latar belakang budaya dan pengaruh lingkungan yang begitu kuat, tidak mudah bagi pemuda Kambiyain keluar desa untuk turut bertarung mengejar cita-cita.
Pelatihan ini tidak sekedar belajar, sebagaimana biasa belajar dengan buku atau mendengar ceramah. Lebih dari itu, pelatihan ini memberikan pengalaman berharga bagi semua yang terlibat, bukan hanya bagi peserta, tapi juga panitia, fasilitator dan seluruh warga Kambiyain. Belajar tentang memahami, baik itu memahami ancaman kerusakan ekologi yang semakin berada di tepi jurang, juga memahami betapa pentingnya merawat keragaman, sebagai satu kesatuan solidaritas, titik temu perbedaan.
Interaksi satu sama lainnya yang begitu hidup, membuat dialog menjadi nyata. Bukankah keragaman hanya dapat dirajut dengan dialog? Tanpa dialog, yang terjadi hanya pemaksaan keinginan, diskriminasi, dan bahkan tindak ketidak adilan. Itulah yang sekarang mengancam Kambiyain. Mereka tidak pernah diajak berdialog secara setara, membicarakan hal-hal yang dianggap pemerintah sebagai pembangunan, namun bagi warga dirasakan sebagai tindak pengrusakan, bahkan pemusnahan. Dialog yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang setara, tidak ada diskriminasi, subordinasi, apalagi keinginan untuk menjajah dan menindas.
Pembelajaran paling berharga dalam pelatihan ini adalah, “semua umat beriman, peduli terhadap ancaman kerusakan ekologi, karena lingkungan merupakan rumah bersama dari semua agama. Bila ada yang tidak peduli, tentu layak diragukan keimanannya”.












