BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Organisasi Pemuda Bakti Banua (PBB) sukses menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional.
PBB berhasil menyingkirkan ratusan pesaing dan terpilih menjadi salah satu dari 20 mitra pelaksana Program GerakDampak Academy 2026 hasil kolaborasi bergengsi dengan Indika Foundation.
Hebatnya, organisasi ini menjadi wakil tunggal dari Pulau Kalimantan yang berhasil lolos seleksi ketat dari total 376 pendaftar di 34 provinsi se-Indonesia.
Sebagai langkah pembuka, PBB langsung tancap gas dengan menggelar Mini Bootcamp GerakDampak Academy 2026 yang berlokasi di Nurhayati Building, Global Islamic Boarding School (GIBS), Jumat (21/08/2026). Sebanyak 92 pemuda-pemudi pilihan dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA/SMK, mahasiswa, hingga lulusan baru (fresh graduate) berkumpul untuk mengikuti serangkaian gemblengan.
Berbeda dari program kepemudaan pada umumnya, GerakDampak Academy tahun ini mengambil langkah berani dengan menyoroti isu yang kerap termarginalkan, yakni kesehatan mental (mental health) di kalangan pemuda kelompok rentan.
Sasaran utama program ini difokuskan secara spesifik pada anak-anak panti asuhan, pemuda penyandang disabilitas, hingga anak-anak yang tengah berhadapan dengan persoalan hukum.
“Lewat program ini, kita tidak ingin anak muda cuma sekadar tahu ada masalah sosial, tapi harus bisa membedah akar persoalannya,” tutur Fatimah Jahratun Nisa, selaku Program Officer GerakDampak Academy 2026.
Ia menekankan bahwa peserta dituntut untuk merancang aksi yang benar-benar menjawab kebutuhan kelompok rentan, sekaligus mengubah empati menjadi aksi yang nyata di lapangan.
Selama bootcamp berlangsung, puluhan peserta dijejali materi berbobot namun interaktif, seperti konsep Good Global Citizen, Nilai HARMONI, hingga metode Problem Tree untuk membedah akar masalah secara terstruktur. Tidak hanya itu, wawasan empati mereka makin dipertajam melalui ruang diskusi aktif dan Talkshow bertema “Mental Health Awareness & Empathy Action” yang menghadirkan pakar yakni Rimalia Karim, dan Rojihah, M.Psi., Psikolog.
Langkah proaktif PBB ini rupanya mendapat acungan jempol dari Pemerintah Provinsi. Kepala Bidang Pemberdayaan Pemuda Dispora Kalsel, Budiono, memaparkan bahwa gempuran teknologi saat ini menuntut generasi muda untuk tidak hanya pintar secara akademik semata.
“Mereka juga dituntut punya kecerdasan sosial-emosional, kepedulian, dan kepekaan memecahkan masalah, kita berharap program ini mencetak pemuda Kalsel yang tangguh, kreatif, inovatif, dan berintegritas,” tegasnya.
Dukungan serupa juga mengalir dari Sekretaris Yayasan Hasnur Centre, Nina Richi Tresy Putri, yang mengapresiasi keberanian para pemuda mengambil inisiatif. Ia menantang peserta untuk memaksimalkan momentum emas ini demi menciptakan dampak jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
“Pemimpin sejati bukanlah yang duduk paling tinggi, melainkan yang berdiri di depan memberi teladan dengan prinsip ‘bukan aku, tapi kita’ serta dampak yang ditinggalkan,” ungkap.
Perjuangan 92 peserta ini nyatanya baru saja dimulai. Rangkaian Mini Bootcamp ini sekaligus menjadi arena penyaringan ketat untuk mencari 25 peserta terbaik yang akan melaju ke tahap Intensive Course. Mereka yang lolos nantinya akan mendapat pendampingan khusus hingga tahap implementasi proyek aksi sosial yang dijadwalkan terjun langsung ke lapangan pada November 2026 mendatang. (Nug/KPO-5)















