Tayangan TV Masih Minim Kualitas

Oleh : Dewi ayu larasati
Staf pengajar Universitas Sumatera Utara

Intervensi media, khususnya televisi terhadap masyarakat kita, sudah tak terhindarkan lagi. TV merupakan salah satu media massa yang memiliki daya persuasi yang sangat kuat.  Data Nielsen Consumer Media View & Radio Audience Measurenment seperti dikutip dari laman Republika.co.id (20/9/2019) menyebutkan penetrasi televisi cukup tinggi, yakni di atas 90 persen masyarakat kita penonton televisi. Apalagi kondisi pandemik Covid-19 yang dibarengi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah membuat masyarakat lebih banyak menonton televisi di rumah.

Seharusnya, kekuatan besar ini bisa dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi media televisi yang baik, seperti edukasi, penyebaran nilai-nilai luhur bangsa, serta merangsang pembentukan karakter bangsa. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Televisi sebagai media pembentukan mental masyarakat kehilangan fungsi edukatifnya. Program tayangan televisi dewasa ini lebih banyak merusak mental penonton, terutama anak-anak.

Tayangan televisi nasional maupun lokal di Indonesia, masih banyak melakukan pelanggaran yakni dengan mempertontonkan hedonisme, kekerasan, pornografi, hingga melanggar norma kesopanan.

Media Televisi Mengabaikan Kualitas

Peran media televisi kini lebih cenderung pada konteks institusi bisnis semata daripada fungsi sosialnya. Sehingga penonton dianalogikan sebagai pasar sekaligus komoditas. Akibatnya media televisi menempuh jalan instan pada iklim kompetisi agar menarik banyak pemirsa dan pengiklan.

Fenomena ini tak urung membuat Victor Menayang yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), menulis sebuah kesimpulan bahwa seluruh praktisi televisi memang hanya mengejar rating (popularitas semasif mungkin).

Tayangan televisi pun akhirnya berlomba membuat acara yang menciptakan selera pasar sambil menyatakan inilah “selera pasar” dan memaksa stasiun televisi mengakui serta mengakumulasi program sejenis yang mengabaikan kualitas.

Dengan menjamurnya tayangan di bawah standar kualitas tersebut, otomatis berdampak negatif terhadap masyarakat pada umumnya serta pada anak-anak khususnya. Apalagi program itu ditayangkan pada jam tayang utama di mana waktu itu dipastikan ditonton oleh kebanyakan anak-anak.

Kategori Tayangan yang Merusak Mental Publik

Ada beberapa kategori tayangan yang dapat merusak mental publik saat ini.

Pertama, tayangan televisi yang bersifat membangun ilusi publik secara berlebihan atau hiper-realitas. Menurut Guy Debord dalam bukunya Society of the Spectacle (1987), hakikatnya komoditi tidak lebih daripada ilusi, dan tontonan ialah manifestasinya.

Tayangan televisi saat ini bukan lagi merupakan refleksi dari realitas sosial masyarakatnya, namun sudah menjadi konstruksi sosial segala keinginan dan ilusi tentang gaya hidup konsumennya untuk dibangun dan diwujudkannya. Dalam hal ini tontonan lebih merupakan rekaan dunia imajiner yang ingin disakralkan, sehingga munculnya ilusi objektivitas di masyarakat kita dan membuat orang membangun realitas yang baru di dalam kepalanya yang dianggap “ideal”.

Tontonan-tontonan publik seperti film, sinetron, reality show dan sebagainya melakukan simulasi terhadap setiap sudut kehidupan manusia yang dianggap ideal. Saat ini menurut masyarakat kita, idealnya pria baik itu adalah pria yang berpenampilan bersih dan tidak berjenggot. Perempuan cantik itu harus berkulit putih dan langsing. Rumah tangga yang mapan itu mesti memiliki rumah besar, punya dua atau tiga mobil yang berbeda jenisnya, mengenakan pakaian yang bagus serta modis, termasuk sering berpelesiran ke luar negeri. Setidaknya, itulah konsep ideal yang sering tercitrakan di media.

Berita Lainnya

Korean Wave Tidak Layak Menjadi Panutan

Ada Anggapan Bulan Safar Sial

1 dari 165

Hal tersebut justru menimbulkan kemarahan Noam Chomsky, seorang pakar linguistik yang menabalkan media sebagai “the turn of violence” dikarenakan media melakukan dramatisasi dalam pemuatan isi media. Realitas dalam media adalah realitas terkonstruksi (constructed reality) yang dikemas sedemikian rupa sehingga tak ada lagi bentang demarkasi antara yang faktual dan yang artifisial.

Kedua, tayangan yang bersifat konsumtif. Adu atau pamer kekayaan serta menunjukkan gaya hidup konsumtif dan hedonistik dari para artis seperti barang mewah, saldo ATM, dan bentuk kekayaan materi lainnya menjadi tren untuk disiarkan.

Program ini tidak tepat tayang pada saat masa pandemi covid 19 yang tengah berlangsung di tanah air. Padahal sudah jelas bahwa sekarang ini masyarakat begitu terpuruk dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan namun mereka malah berusaha pamer akan kekayaan yang dimiliki. Pihak televisi mestinya menyadari, kebanyakan orang saat ini sedang berusaha mati-matian untuk bertahan hidup di masa-masa sulit.

Di lain hal, memamerkan harta kekayaan dulunya dianggap tidak etis di budaya masyarakat kita, namun saat ini semuanya seolah telah berubah. Konten siaran pamer kekayaan justru mendapat atensi yang tinggi dari masyarakat.

Akibatnya publik pun bahkan merubah mindset mereka untuk sekedar ikut-ikutan gaya hidup ala artis dengan selera eksklusif, menciptakan pilar masyarakat kapitalis-neoliberal. Jerat hedonisme membuat masyarakat menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Ketiga, tayangan eksploitatif. Artinya tayangan tersebut ditujukan demi keuntungan satu pihak dan mengorbankan pihak lain. Tayangan yang mengeksploitasi anak, seksual, termasuk ruang privat dengan menguak kehidupan pribadi serta aib orang-orang adalah beberapa contoh yang sering kita lihat.

Banyak program TV yang mengabaikan jiwa dan peran anak semestinya seperti tampilan riasan wajah yang tebal, baju seperti orang dewasa, pergaulan seperti orang dewasa, serta menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang semuanya ditujukan untuk kepentingan pihak produser.

Tayangan berbau seks, serta acara buka aib di TV pun semakin laku seolah-olah televisi membenarkan tindakan tersebut untuk ditiru oleh masyarakat. Apalagi program-program TV tersebut menampilkan pembawa acara wanita atau pengisi acara wanita yang mengenakan pakaian yang sangat minim, ketat dan kurang pantas. Terlebih pengambilan gambarnya dilakukan secara close up dan/atau medium shot.

Program TV yang memuat ‘prank’, cerita miris, dan penuh gimmick juga cukup masif ditayangkan. Dari dulu, jualan tangis dan belas kasihan di Indonesia memang selalu laris manis untuk ditonton. Sayangnya acara tersebut dibuat hanya untuk mendulang views dan mendongkrak popularitas artis bersangkutan.

Keempat, tayangan yang membangun halusinasi. Halusinasi adalah gangguan yang membuat seseorang seolah menyaksikan atau mengalami hal-hal yang tidak nyata. 

Acara televisi yang dapat men-trigger mental penonton hingga mengalami halusinasi seperti film kekerasan, tayangan mistis, horror serta supranatural. Tayangan berita kriminal termasuk reka ulang adegan juga memberi dampak buruk bagi kesehatan mental penonton, karena bisa menjadi sumber inspirasi bagi pihak tertentu untuk meniru tindak kekerasan tersebut. Apalagi acara-acara tersebut ditayangkan dengan intensitas yang tinggi dan variatif.

Hal ini sejalan dengan yang apa diungkapkan Jacob Oetama (2001:98) bahwa media hanya menjadi komoditas komersial yang berpaku pada eksploitasi segala bentuk tayangan dan informasi yang laku. Muatan media berpusat pada sensasionalisme, pelanggaran hak privat, hingga pornografi.

Tayangan minim kualitas bukanlah hal yang baik bagi pendidikan mental publik karena program-program tersebut memberikan contoh pendidikan karakter yang tidak sesuai dengan norma dan etika pendidikan bangsa Indonesia.

Kita akui era sekarang adalah era media. Rezim kebebasan informasi menutup peluang untuk membatasi media ke wilayah tersebut. Yang perlu dilakukan masyarakat agar tidak terbawa arus siaran televisi adalah memilih acara yang bermanfaat, cerdas dalam menonton, dan kritis dalam mensikapi tontonan. Apalagi di tengah pandemi virus corona, menjaga kesehatan mental adalah satu hal yang sangat penting.

Negara juga semestinya harus hadir dan memastikan bahwa penyiaran sebagai wilayah publik bukan privatisasi oleh kapitalisme pemilik modal.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya