Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Presidensi KTT G20 Membuka Jalan Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

×

Presidensi KTT G20 Membuka Jalan Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Sebarkan artikel ini

Oleh : Jamilatul Husna Tiara Adha
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional FISIP Univesitas Muhammadiyah Malang

Terpilihnya Indonesia sebagai presidensi dari G20 pada 2022 merupakan kesempatan emas dan momentum untuk menunjukkan pariwisata, industri perhotelan dan produk-produk ekonomi domestik. Presidensi dimulai sejak 1 Desember 2021 hingga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 ke-21 bertempat di Bali. Group of 20 (G20) adalah sebuah forum kerja sama multilateral yang beranggotakan 19 negara dan Uni Eropa. KTT G20 merupakan acara puncak dari rangkaian acara G20 selama satu tahun presidensi Indonesia. KTT G20 ini sudah dilaksanakan pada 15-16 November 2022. KTT G20 juga merupakan salah satu forum internasional yang banyak memimiliki pengaruh di dunia, karena pertemuan tersebut diisi oleh para pimpinan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. G20 merepresentasikan 75 persen perdagangan internasional, 85 persen perekonomian dunia, 60 persen populasi dunia, dan 80 persen investasi global.

Kalimantan Post

Lalu bagaimana pengaruh Presidensi KTT G20 dalam pembangun perekonomian Indonesia? Apakah berdampak positif atau malah sebaliknya? Apakah rakyat Indonesia dapat merasakan dampak dari Presidensi KTT G20 ini secara langsung?

“Recover Together, Recover Stronger” adalah tema yang diangkat oleh Indonesia sebagai Presidensi KTT G20. Dari tema ini, Indonesia mengajak kepada dunia untuk saling bahu-membahu, mendukung untuk bangkit dan pulih bersama, menjadikan lebih kuat dan berkelanjutan. Dari Presidensi KTT G20 di Bali, Indonesia mendapatkan banyak keuntungan. Maka Presidensi KTT G20 akan membuka jalan lebar bagi perekonomian Indonesia dan mendukung pemulihan perekonomian diberbagai sektor seperti perhotelan dan pariwisata akibat pandemi Covid-19.

Kemudian bukti nyata mengenai dampak dari diadakannya Presidensi KTT G20 di Indonesia, yakni penambahan devisa negara yang langsung disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, dapat memberikan kontribusi terhadap produk domestic bruto bertambah kurang lebih sekitar Rp7,4 triliun. Dari bukti pertama ini, sudah dapat melihat bahwasanya perhelatan besar ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian negara Indonesia terkhusus menambah devisa negara.

Baca Juga :  Malam Lailatul Qadr

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisata mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali pada September 2022 tercatat sebanyak 291.162 kunjungan. Sedangkan pada bulan sebelumnya sekitar 276.659 kunjungan, yang berarti pada September terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisman sebanyak 5,24 persen. Dari banyaknya wisman yang datang dan ditambah dengan delegasi-delegasi dari berbagai negara berdampak positif bagi perekonomian Indonesia, khususnya masyarakat Bali. Mulai dari penuhnya tingkat hunian hotel yang ada di Bali, kemudian kembalinya 100 persen karyawan hotel, yang sebelumnya 50 persen dari mereka dirumahkan, dan para karyawan ini juga mendapatkan gaji penuh seperti sebelumnya pandemi Covid-19. Mereka juga tidak akan dirumahkan lagi, karena kondisi pariwisata Bali semakin membaik.

Ekonomi Bali berhasil tumbuh 8,09 persen pada periode Juli-September 2022 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021. KTT G20 juga menjadi jalan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), seperti kerajinan tangan, kemudian toko-toko yang menjual berbagai souvenir ataupun makanan khas Bali, dan juga restoran-restoran yang ada. Para penyedia jasa sewa kendaraan juga mendapatkan manfaat positif dari perhelatan besar ini.

Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwasanya ada 226 kesepakatan multilateral dengan total nilai investasi USD 238 miliar dan 140 proyek bilateral dengan nilai investasi USD 71,4 miliar. Investasi ini adalah sebuah jalan bagi terbukanya banyak lapangan kerja. Hal-hal ini harus segera dilaksanakan dengan memperhatikan berbagai kesepakatan yang ada, dan komitmen serta kebijakan mengenai bagaimana jalannya investasi asing juga harus tetap dijaga agar kedaulatan dan nasionalisme dari negara tetap terjaga, dan diharapkan dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan juga negara. Ada Jepang, Korea Selatan, dan juga Inggris mengenai proyek LRT di Jakarta. Kemudian diikuti oleh Turki yang memiliki komitmen investasi pada pembangunan jalan tol Trans Sumatera.

Baca Juga :  Belajar Dari Perjalanan Hidup Chen Kuan Tai

Dalam KTT G20 juga dibahas mengenai kesepakatan soal pangan. Dalam hal ini salah satu yang disepakati adalah dapat mengamankan impor gandum Indonesia, terkhusus dari Australia yang merupakan negara pemasok gandum pertama ke Indonesia. Australia akan menjaga komitmennya dalam impor gandum ke Indonesia, maka dari itu stok gandum akan aman dan tentunya mie instan yang sempat digadang-gadang menaikan harga, akhirnya tidak jadi naik, artinya harganya akan tetap stabil.

Orang Inggris sering mengatakan, bahwa “Every cloud has a silver lining”, yang artinya di balik awan mendung sesungguhnya selalu tersimpan cahaya terang. Di balik sebuah kesulitan yang sedang menghadang sejatinya akan selalu ada kemudahan yang akan menghampiri. Peluang, sekecil apa pun, untuk keluar dari setiap kesulitan tetap terbuka. Kalimat ini adalah sebuah kalimat yang tepat untuk bangsa Indonesia, yang mana dari KTT G20 kita banyak mendapatkan peluang untuk membuka jalan bagi perekonomian Indonesia kearah lebih baik dan pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19. Pemerintah dan juga masyarakat harus berjalan bersama demi terciptanya ekonomi Indonesia yang lebih maju.

Iklan
Iklan