Oleh : MHD. Natsir Yunas
Dosen Departemen Pendidikan Luar Sekolah UNP Padang
Perjuangan Kartini yang diperingati setiap 21 April bukan hanya sekedar kepedulian pada hak perempuan untuk mendapatkan tempat yang sama dengan kaum laki-laki. Tetapi juga untuk memberikan ketegasan bahwa Kartini adalah seorang perempuan yang tetap mempertahankan nilai-nilai seorang perempuan dan mengajarkan bagaimana seharusnya seorang perempuan berjuang. Kartini tidak berjuang untuk menjadikan kaum perempuan menggantikan peran laki-laki, tetapi memberikan kesempatan yang sama kepada kaum perempuan untuk berperan serta dalam menjalankan eksistensinya yang selama penjajahan selalu dikekang.
Tulisan ini ingin mempertegas bahwa emansipasi kaum perempuan yang diperjuangkan Kartini bukanlah vis a vis dengan kaum laki-laki. Perjuangan Kartini mengingatkan bahwa perempuan bisa berbuat seperti halnya laki-laki, namun tetap dalam kodratnya sebagai perempuan. Hal ini terbukti dengan melihat proses perjuangan yang dilakukannya. Di mana Kartini mengawali perjuangan dengan memberikan perhatian kepada pendidikan dan kemampuan perempuan untuk meningkatkan kompetensinya kepada perempuan. Kartini sepertinya ingin menegaskan bahwa untuk bisa berperan, perempuan haruslah memiliki kompetensi yang dapat menjadikan dirinya bisa berbuat sesuai dengan nilia-nilai perjuangan yang dilakukan.
Kartini belum bicara tentang peran publik seperti apa yang harus di isi perempuan. Karena sesunguhnya peran yang akan dijalankan seorang perempuan akan sangat ditentukan oleh kapasitasnya sepbagai perempuan. Perempuan yang memiliki kemampuan dan bisa berperan layaknya peran laki-laki di ruang publik. Banyak contoh yang bisa dijadikan sebagai bukti, bahwa Kartini sebenanrnya lebih fokus pada peningkatan kapasitas dan kompetensi kaum perempuan, bukan vis avis kaum laki-laki.
Ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai dasar berpikir untuk itu. Pertama, nilai perjuangan Kartini lahir bukan dari dendam atau kebencian kepada kaum laki-laki yang dianggap “penindas”. Tetapi lahir dari kesadaran dirinya sebagai perempuan yang memiliki kemampuan dan bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakatnya, khususnya kaum perempuan.
Oleh sebab itu narasi yang dikembangkan seakan Kartini merasa tertindas dari kaum laki-laki adalah tidak tepat. Karena semua perjuangan Kartini selalu di iringi kesadaran dirinya sebagai perempuan. Bahkan kenyataanya Kartini dalam perjuangannya mendapatkan support penuh dari suaminya untuk mewujudkan cita-citanya. Artinya perjuangan Kartini juga bentuk wujud kolaborasi dengan laki-laki (suaminya). kolaborasi yang lahir dari kesadaran individu terhadap kesempatan yang terbatas kepada perempuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kedua, ketika di awal perjuangannya Kartini mendirikan sekolah khusus putri di Jepara. Materi yang diajarkan Kartini adalah mengasah kemampuan life skill dari kaum perempuan. Mengajarkan mereka cara menjahit, menyulam, dan memasak. Artinya yang menjadi basis gerak pertama Kartini untuk meningkatkan peran dan fungsi perempuan adalah dengan menguatkan kompetensi mereka. Sebagaimana curhatan yang dituliskan Kartini kepada temannya Rosa Abendanon di Belanda. Surat yang berisikan kegelisahannya terhadap nasib kaum perempuan dan keinginannya untuk menaikkan derajat kaum perempuan Indonesia.
Ketiga, Kartini menjalankan kodratnya sebagai perempuan dewasa yang harus menjalani kehidupan berkeluarga. Di mana Kartini menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang. Menjalankan tugas sebagai seorang perempuan, menjadi seorang istri. Melalui pernikahan ini, Kartini mendapatkan “amunisi” dari suaminya. Karena Raden Adipati Joyodiningrat sangat mendukung cita-citanya menjadi seorang guru dengan mendidik kaum perempuan agar bisa lebih baik lagi. Kartini diizinkan membangun sebuah sekolah khusus putri di Rembang (sekarang jadi Gedung Pramuka).
Kartini juga hamil dan melahirkan sebagaimana kodrat yang harus dijalani seorang perempuan. Hamil dan melahirkan bukanlah suatu halangan untuk memperjuangkan cita-citanya. Hamil dan melahirkan bukanlah bentuk penindasan dari kaum laki-laki. Tetapi fitrah dan kodrat yang memang harus dijalani untuk menjaga estafet kehidupan di dunia.
Jadi tidak benar ketika ada yang mengaku Kartini sejati, tetapi tidak mau menikah dengan alasan akan menghambat karir. Tidak mau hamil dan melahirkan karena akan menyusahkan dan merusak indahnya bentuk tubuh. Ini tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan yang di anut oleh Kartini.
Maka Kartini sejati tidak akan berubah menjadi Kartono. Artinya ingin berbuat seakan dirinya laki-laki. Merasa semua yang menjadi kodrat perempuan sebagai bentuk penindasan. Padahal kodratnya sebagai perempuan yang terlahir ke dunia ini tidak mungkin akan berubah. Makanya Kartini sejati tidak akan merusak kodrat dan fitrahnya sebagai perempuan yang diberikan kelebihan dari kaum laki-laki.
Keempat, tujuan utama Kartini adalah memperjuangkan hak asasi kaum perempuan sebagai manusia. Bukan hak untuk mendapatkan kekuasaan atau jabatan publik lainnya. Kartini berjuang agar kaum perempuan mendapatkan pendidikan yang baik. Sehingga memiliki kemampuan dan kualitas yang lebih baik. Melalui kemampuan tersebut nantinya bisa membuat keputusan terbaik bagi diri dan keluarganya.
Kartini adalah sosok pejuang perempuan sejati. Membela hak perempuan tanpa menanamkan kebencian kepada kaum laki-laki. Karena dari segala tindakan yang dilakukan Kartini dalam kesehariannya, betul-betul menggambarkan bagaimana perempuan merupakan bagian dari kaum laki-laki yang akan menjadi lebih baik kalua bisa berkolaborasi untuk kemaslahatan ummat.
Kartini menikah dan hamil, serta menjalankan segala bentuk kodrat sebagai perempuan adalah wujud nyata kalau Kartini adalah perempuan sejati yang memperjuangkan hak-hak dasarnya sebagi perempuan. Kartini berjuang bukan untuk merebut kekuasaan yangs selama ini dikuasai oleh laki-laki. Tetapi memberikan kesempatan dan menghargai kemampuan kaum perempuan untuk bisa berkontribusi bagi bangsa.
Kartini berjuang tidak harus menjadi Kartono yang memiliki tulang kuat, jakun yang menandakan bahwa dia seorang laki laki atau memusuhi laki-laki. Kartini bukanlah Kartono dan sekali-kali tidak akan pernah menjadi Kartono. Karena Kartini adalah perempuan yang memiliki jiwa lembut, penyayang dengan segala sifat keibuan. Perjuangan Kartini adalah mempetegas bahwa kaum perempuan sadar dia perempuan dan berbuat sebagai perempaun yang memiliki kemampuan yang tidak kalah hebat dari kaum laki-laki. Tetapi kehebatan dari kaum perempuan tersebut bukan untuk berlawanan dengan kaum laki-laki. Tetapi menyatu menjadi kekuatan yang saling menguatkan sehingga terbentuk harmoni kehidupan yang lebih baik.
Semoga segala bentuk kepedulian terhadap kaum perempuan atau gerakan feminisme yang menjadikan Kartini sebagai simbol perjuangan, bisa menyibak makna dari perjuangan Kartini yang sesunguhnya. Menjadikan bangsa ini lebih baik lagi.











