Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Guru dan Orangtua dalam Gerakan Literasi
(Catatan Hari Buku Nasional dan HUT Perpustakaan Nasional RI)

×

Guru dan Orangtua dalam Gerakan Literasi<br>(Catatan Hari Buku Nasional dan HUT Perpustakaan Nasional RI)

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis beberapa buku sejarah dan budaya Banjar

Tidak semua masyarakat tahu bahwa 17 Mei merupakan Hari Buku Nasional (HBN) dan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional RI. Meskipun momentumnya sudah lewat, tidak salahnya kita garisbawahi lagi, sebab dalam hal buku dan membaca tidak ada istilah kedaluarsa.

Kalimantan Post

Beberapa tahun lalu, tepatnya 6 September 2016, Ikatan Guru Indonesia (IGI) bersama Pemerintah Kota Banjarmasin mengadakan seminar bertema “Gerakan Literasi untuk Pengembangan Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal”. Seminar dibuka Asisten Administrasi Ghazi Ahmadi dan pengarahan/motivasi oleh Walikota Ibnu Sina. Seminar yang didukung Kesultanan Banjar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu pakar literasi nasional Dr Satria Dharma, pakar pendidikan Dr Abdul Kamil Marisi, dan penulis sebagai salahseorang pengkaji dan penulis sejarah dan budaya Banjar. Dihadiri lebih 200-an guru dari Kalimantan Selatan, seminar tersebut berjalan serius dari awal hingga akhir.

Banyak hal menarik, di sini penulis membatasinya pada masalah literasi saja dengan mengaitkannya kepada peran guru di sekolah dan orangtua di rumah. Menurut Satria Dharma, literasi merupakan gabungan antara keterampilan membaca dan menulis. Mengutip sejumlah ayat Alquran, Satria menekankan, sejak awal agama Islam sudah memerintahkan kepada umat Islam melalui Rasulullah saw untuk membaca. Allah tidak menyuruh umat Islam lebih dahulu untuk shalat, berpuasa, berzakat atau berhaji, tetapi yang diperintahkan pertama kali justru membaca.

Betapa pentingnya membaca-tulis ini, Rasulullah dan para sahabat ketika berhasil menang dalam Perang Badar, para tawanan Quraisy justru disuruh menebus dirinya dengan mengajari umat Islam di Medinah untuk baca tulis. Setelah berhasil dalam mengajar, mereka dibebaskan dan dipersilakan pulang ke Mekkah. Tak hanya itu, ketika hijrah ke Medinah Rasulullah juga menyuruh para sahabatnya untuk belajar bahasa Ibrani, supaya mudah dalam membaca kitab-kitab dan surat-surat berbahasa Ibrani dan mudah berkomunikasi dengan orang-orang Yahudi yang ada di Medinah dan sekitarnya.

Beranjak dari dalil dan fakta historis ini, berati membaca adalah “The First Commandment” (Perintah Pertama) bagi umat Islam. Sekiranya umat Islam mau mengamalkan dan meneladaninya, menurut Satria, sudah pasti umat Islam akan lebih maju daripada umat lain, dan hal ini pernah dicapai umat Islam di era kejayaannya ratusan tahun silam.

Kurang ditemui pada agama-agama lain perintah langsung untuk membaca, tetapi karena umatnya rajin membaca maka mereka bisa maju. Sebaliknya, begitu banyak perintah membaca dalam Alquran dan Hadits, tetapi karena umat Islam tidak mengamalkannya, akhirnya banyak negara dan umat Islam terbelakang dan kalah bersaing dengan negara-negara lain.

Jauh Tertinggal

Salah satu representasi umat Islam dunia adalah Indonesia. Ternyata dalam sejumlah hasil penelitian, minat baca umat Islam Indonesia sangat rendah. Sejumlah negara maju, rakyatnya begitu lahap dalam membaca, apalagi anak-anak sekolah. Sekadar contoh di sejumlah kota di negara maju, buku-buku sastra yang wajib dibaca oleh anak-anak SMA antara 5-32 judul dalam setahun, sedangkan Indonesia 0 buku.

Baca Juga :  Kartini tak Lagi Menunggu, Perempuan Kalsel Merebut Peran Strategis

Menurut Taufik Ismail, rata-rata anak SMA di Jerman membaca 32 judul buku per tahun, Belanda 30 judul, Rusia dan Jepang 12 judul, Singapura dan Malaysia enam judul, Brunei Darusalam tujuh judul. Belum lagi buku-buku di luar buku sastra. Sedangkan Indonesia 0 judul. Salah satu negara Eropa yang dianggap paling maju pendidikannya saat ini adalah Finlandia, di sana rakyatnya tak hanya rajin membaca buku, bahkan 85 persen rakyatnya berlangganan satu atau lebih koran. Karena itu Finlandia dijuluki sebagai “Negara Pembaca”. Dua negara yang mampu melampaui Finlandia adalah Jepang dan Norwegia, di sana masyarakatnya meminjam dan membaca rata-rata 21 buku setiap tahun.

Mengingat kepincangan ini, maka sebagian pakar pendidikan tidak lagi menyebut fenomena membaca yang rendah ini sebagai masalah, tetapi sudah menjadi sebuah tragedi, yang tidak saja bertentangan dengan ajaran agama yang menyuruh membaca, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha membentuk manusia berkualitas di masa depan. Para pakar sangat khawatir bangsa ini akan kalah bersaing dalam percaturan global dan tanda-tandanya mulai kelihatan.

Selama ini bisa hidup enak karena dimanjakan oleh alam, dan masih diberi banyak pinjaman utang luar negeri. Pada saat nanti kekayaan alam habis dan luar negeri enggan memberi pinjaman, sementara kualitas SDM rendah, apalah jadinya. Sekarang saja, belum bisa menjadi tuan di negara dan daerah sendiri, karena kualitas SDM relatif rendah.

Mulai Bangkit

Meski agak terlambat, jika ada keinginan untuk bangkit tentu masih ada waktu. Anies Rasyid Baswedan saat menjadi Menteri Pendidikan pada 2015 lalu sudah mencanangkan gerakan literasi nasional. Meski kini telah berganti menteri, gerakan yang positif ini terus berlanjut.

Belakangan semakin banyak daerah dan kota yang menjadikan gerakan literasi sebagai salahsatu program penting di daerahnya. Surabaya sejak kepemimpinan Walikota Tri Rismaharini telah lebih dahulu mendeklarasi Surabaya sebagai kota literasi. Banjarmasin di bawah Ibnu Sina juga demikian. Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalsel serta Dinas Pendidikan dan Kearsipan Kota Banjarmasin boleh dikatakan setiap tahun menyediakan anggaran untuk mencetak buku-buku lokal dan mengedarkannya ke perpustakaan-perpustakaan dan masyarakat. Alhamdulillah buku-buku penulis dan kawan-kawan juga ada yang diterbitkan diantaranya. Dengan kesungguhan dan dukungan semua pihak, obsesi menjadikan Kalsel dan Kota Banjarmasin sebagai daerah letarasi juga akan terwujud.

Gerakan literasi tidak bersifat spontan dan muncul dengan sendirinya. Ia memerlukan kesadaran, gerakan dan keseriusan usaha secara berkesinambungan. Di sini peran sangat penting juga berada di tangan guru dan orangtua. Sudah waktunya, sekolah tidak hanya memiliki perpustakaan sekolah, tetapi juga perpustakaan kelas. Artinya buku didekatkan kepada siswa, sehingga setiap hari dan di sela-sela waktu kosong siswa bisa membaca buku apa saja yang berguna. Mungkin ada baiknya PR dikurangi dan diganti dengan membaca buku-buku umum sebagai pengayaan.

Baca Juga :  Presiden Prabowo, Dari Ketidakpuasan Sampai Ancaman Makar

Orangtua juga demikian, mereka hendaknya rajin membelikan oleh-oleh untuk anaknya berupa buku, bukan oleh-oleh lain yang hanya membuat anak manja. Banyak negara maju sangat membatasi bahkan melarang penggunaan HP untuk anak-anak, mengapa tidak melakukannya? Pernahkah berhitung berapa waktu dan uang tersedot oleh anak-anak bocah hanya untuk berkomunikasi ria melalui HP yang tidak begitu jelas manfaatnya bagi mereka, apalagi jika sengaja disalahgunakan, belum lagi risiko kesehatan mata dan sebagainya karena setiap hari terkena radiasi. Sebenarnya melalui HP juga bisa memperoleh pengetahuan, namun sayang tidak semua digunakan ke arah sana. Mestinya HP hanya untuk orang dewasa dan pelaku bisnis yang memang punya urusan penting dalam komunikasi.

Kalau ingin anak rajin membaca, diperlukan keteladanan. Sama seperti orangtua melarang anaknya merokok, orangtua harus menjadi teladan lebih dahulu. Orangtua perlu sering mengajak anak melakukan rekreasi ke toko-toko dan tempat pameran buku. Di setiap rumah tangga hendaknya ada buku, sehingga ada kepustakaan keluarga. Kalau selama ini masing-masing keluarga sanggup membeli sesuatu di luar buku sekian ratus ribu rupiah per minggu bahkan per hari, mengapa untuk membeli buku, misalnya satu judul dalam seminggu atau sebulan, mereka tidak mau dan mampu. Bukan hanya tidak mau, bahkan banyak orangtua yang mengeluh, menggerutu dan melontarkan sumpah serapah ketika anaknya harus membeli buku.

Semua buku, baik usang maupun baru sama-sama bermanfaat. Tidak ada ilmu pengetahuan dan informasi yang sia-sia atau ketinggalan zaman. Namun agar dunia perbukuan lebih bergairah dan minat baca anak dan masyarakat meningkat, tentu makin diperlukan penelitian, pengkajian, penyusunan dan penyusunan buku-buku baru. Termasuk buku-buku bernuasa sejarah dan budaya lokal.

Perhatian pemerintah, pemerintah daerah serta para wakil rakyat sangat dituntut. Sudah waktunya dialokasikan anggaran yang cukup dan utuh setiap tahun untuk mendukung penerbitan buku, sehingga para penerbit, rekanan dan para penulis buku kebagian rezeki yang memadai dari usaha dan karyanya. Kita di banua Banjar sebenarnya memiliki cukup banyak penulis yang mampu menyusun buku bernuansa lokal dan nasional, tetapi kendalanya sering pada penerbitan, distribusi, pemasaran dan sebagainya. Banyak penulis banting setir kepada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan materi. Hal ini tentu sangat disayangkan, karena potensinya untuk berbagi ilmu jadi kurang berkembang. Padahal untuk menjadi bangsa dan negara maju, kata kuncinya ada pada pendidikan, dan membaca adalah jantung hatinya pendidikan. Sesuai kata Farr, reading is the heart of education. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan