Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Beras Gagala Iman

×

Beras Gagala Iman

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Menulis Beberapa Buku Sejarah dan Budaya Banjar

Mahalnya harga beras sekarang boleh dikata dirasakan semua kalangan, tidak hanya konsumen, juga produsen. Konsumen yang tidak bertani, merasa membeli beras dalam kondisi harga murah dan normal hal biasa. Ada kalanya mereka agak boros memasak, sehingga ada yang basi dan terbuang, karena tidak merasa betapa susahnya menanam padi hingga menghasilkan beras siap dimakan. Saat ini mereka juga mengeluh.

Kalimantan Post

Pembeli beras pada 2022-2023 ini lebih banyak daripada sebelumnya, karena sejumlah warga masyarakat penerima bantuan sosial dari pemerintah yang biasanya berupa beras atau sembako, kali ini langsung berupa uang tunai. Saat bantuan masih berupa beras, banyak dari mereka dapat mengamankan kebutuhan berasnya setiap bulan. Sekarang mereka ikut membeli beras, dengan uang yang diberikan pemerintah, yang belum tentu juga cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Lantas mengapa produsen juga merasakan mahalnya beras. Hal ini disebabkan, banyak daerah yang selama ini menjadi sentra pertanian mengalami gagal panen. Di Kabupaten Barito Kuala misalnya dirasakan di Kecamatan Tamban, Mekarsari, Anjir Muara, Anjir Pasar, Mandastana, Barambai, Cerbon, Belawang dan sebagainya. Di Kabupaten Banjar dirasakan di Kecamatan Kertak Hanyar, Gambut, Sungai Tabuk, Aluh-aluh, Tatah Makmur dan sebagainya, belum lagi kawasan hulu sungai. Para petani mengatakan sawah mereka “tahantak”, air terlalu lama merendam sawah, sehingga tidak berbuah, atau hanya panen sedikit yang kalau dihitung-hitung tenaga dan biaya yang dikeluarkan tidak menutupi biaya produksi alias rugi. Mereka yang biasa beroleh hasil padi kering giling 250-an blek, tahun ini hanya 50 blek, bahkan kurang. Petani yang terbiasa menyimpan padinya, terpaksa mengeluarkan simpanannya untuk dimakan sendiri atau dijual.

Bagaimana dengan pedagang beras? Kalau diamati, tampaknya volume penjualan di saat beras mahal ini lebih meningkat daripada biasanya. Dulu orangtua penulis seorang “pambarasan” (pedagang beras), memiliki toko beras dan juga menjual eceran kepada masyarakat. Setiap kali beras dianggap langka maka harga beras otomatis naik, dan menguntungkan pedagang.

Baca Juga :  Relevansi Polri sebagai Aktor Strategis dalam Ketahanan Pangan: Kajian Hexahelix Governance

Semakin mahalnya harga beras juga karena sebagian konsumen terkena dampak psikologis, bahwa kalau lambat membeli bisa-bisa harga beras di tingkat pengecer tambah mahal. Ada pedagang meramalkan harga beras kualitas bagus bisa menembus Rp20 ribu per liter, bahkan lebih. Ternyata ramalan ini terbukti. Kita tentu sudah beberapa kali membeli dengan harga tersebut. Kalau membeli 10 liter sudah harus mengeluarkan uang Rp200 ribu. Di antara spekulan beras ada yang berani bermodal miliaran rupiah untuk menimbun beras kemudian menjual saat harga sangat tinggi.

Sebenarnya pedagang beras dan pemerintah berupaya memberi solusi, misalnya mendatangkan beras Jawa, yang relatif murah. Namun kebanyakan masyarakat lebih fanatik dengan beras Banjar kualitas tinggi. Beras Jawa mereka anggap mirip dengan ketan, kurang terbiasa di lidah dan perut. Akhirnya mereka memaksa tetap membeli dan mengonsumsi beras Banjar. Sepanjang masih dijual orang mereka berupaya membelinya. Sebagian terpaksa menurunkan sedikit kualitas beras yang dibeli. Kalau biasanya membeli beras mayang, unus/palun, mutiara dan lukut, mungkin mengantinya dengan siam biasa, karangdukuh, pandak, adil dan sejenisnya. Selebihnya terpaksa mengonsumsi beras Dolog.

Gagala Iman

Pernahkah mendengar “gagala”? Penulis cari di Kamus Banjar belum ketemu. Gagala adalah semacam getah kayu yang sudah padat, dulu digunakan sebagai bahan penguat pegangan/hulu alat-alat kerja dari besi, misalnya parang, lading, bajak, cangkul dan sebagainya. Sekarang pengganti gagala biasa dipakai plastik, setelah dimasukkan ke lubang hulu lalu ujung besi dibakar hingga menyatu dengan alat yang mau dipasang.

Masyarakat Banjar dulu menyebut beras sebagai “gagala iman”, maksudnya kalau beras langka, mahal, sementara uang untuk membelinya tidak ada atau sulit dicari, maka iman akan goyah. Tidur dan istirahat akan terganggu, bahkan ibadah pun tidak bisa khusyu’, karena sehari-hari selalu memikirkan beras. Apalagi keluarga besar yang selalu membeli (mahurup baras) untuk kebutuhan sehari-hari. Ada ungkapan, baras langis iwak karing, maksudnya beras habis, ikan tidak ada, meskipun arti sebenarnya baras langis adalah beras yang sudah bersih dan siap dimasak. Sebaliknya kalau beras tersedia mencukupi dan/atau uang membelinya selalu ada, maka iman akan kuat. Tidur akan nyeyak, istirahat dan hidup nyaman, beribadah jadi tenang. Tidak ada anak istri yang kelaparan dan “parut galurukan” (keroncongan).

Baca Juga :  DEMO “NO KINGS”, RETAKNYA AMERIKA

Mengingat pentingnya, maka beras jadi ukuran nilai pekerjaan. Ungkapan Banjar misalnya, “kada jadi baras”, artinya pekerjaan sia-sia yang tidak menghasilkan uang dan harta. Ada yang merasa lebih afdhal berzakat fitrah dengan beras daripada uang. Berbagai macam piduduk upacara ritual atau pemberian karena jasa dan pengobatan tradisional, kadang disebut pikaras, di dalamnya hampir selalu ada beras, sebagai simbol kebutuhan pokok, kesuburan dan kemakmuran.

Antisipasi

Di tengah semakin tingginya harga beras sekarang, beberapa hal perlu dilakukan. Pedagang beras hendaknya tidak melakukan penimbunan. Beras adalah kebutuhan pokok, penimbunan atau penahanan beras menunggu harga makin mahal (ihtikar) dilarang dalam agama. Gudang-gudang penyimpanan padi (resi gudang), kalau punya stok diharapkan segera menggiling padinya dan menjual berasnya ke tengah masyarakat. Dengan begitu harga beras akan terjangkau semua kalangan.

Pemerintah harus berusaha serius, bagaimana agar lahan sawah tetap subur, produktif dan tidak ada padi yang “tahantak”. Apakah hal ini terkait musim, pupuk, atau tingkat kesuburan tanah yang berubah akibat maraknya perkebunan sawit, pertambangan dan rusaknya sungai, perlu dikaji lebih lanjut, disertai upaya serius mengatasi banjir yang merendam lahan sawah dalam waktu lama.

Pengusaha industri, perdagangan, pergudangan dan perumahan hendaknya tidak menjadikan lahan-lahan subur dan produktif padi selama ini sebagai lokasi bangunan, kalau bisa lebih diarahkan ke kawasan yang kurang subur.

Masyarakat konsumen hendaknya tidak terlalu fanatik dengan beras jenis dan kualitas tertentu. Apapun jenis berasnya, kalau diolah dengan baik, disertai lauk-pauk, ubi, sayur dan segala macam, tentu nutrisinya tetap terjaga, tidak akan menurunkan selera dan ketahanan tubuh. Tentu disertai rasa syukur dan mau menerima kenyataan. Dengan begitu harga beras yang menunjukkan tren kenaikan bisa terkendali. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan