Oleh: AHMAD BARJIE B
Ketika muslim shalat, terutama pada tahiyat/tasyahud akhir, setelah bershalawat kepada Nabi Muhammad, selalu dibaca Shalawat Ibrahimiyah yang artinya: “Sebagaimana Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad beserta keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji dan Maha Mulia”.
Mengapa shalawat kita kepada Nabi Muhammad dalam shalat selalu dikaitkan dengan Nabi Ibrahim, hal ini karena antara Nabi Ibrahim dan keluarganya dengan Nabi Muhammad dan keluarganya terdapat hubungan yang sangat erat. Tidak saja hubungan genealogis (garis keturunan), tetapi juga hubungan teologis, psikologis dan sosiologis.
Nabi Ibrahim dan Ismail ‘Alaihimassalam, adalah dua nabi yang menjadi leluhur Rasulullah Muhammad SAW. Kemuliaan Ibrahim dan Ismail sudah diabadikan dalam Alquran, berupa ketaatan yang luar biasa kepada perintah Allah. Nabi Ibrahim yang sudah berusia 86 tahun beroleh anak Ismail dari istrinya Hajar, karena menjunjung perintah Allah rela membawa jauh dan meninggalkan Hajar dan Ismail di Makkah yang dulu tak berpenghuni, tak ada sumber air dan makanan, dll. Hajar yang semula ingin protes, sementara Ibrahim kembali ke Palestina, akhirnya pasrah karena karena yakin itu perintah Allah.
Begitu juga ketika Ismail beranjak dewasa, Ibrahim disuruh menyembelih anaknya, dan Ismail pun sabar menerimanya, begitu juga Hajar merelakan jika harus kehilangan anak kesayangannya. Jadi, sekali lagi keluarga ini benar-benar menaati dan menjalankan perintah Allah secara penuh, tanpa syarat apa pun. Terbukti, dengan kepasrahan itu. Ibrahim tak jadi mengorbankan Ismail dan Ismail pun selamat. Keluarga Ibrahim kemudian membangun Ka’bah yang makin ramai dengan penduduk yang berdatangan.
Menurut KH Asqalani Lc (Haji Iwad) dari Marabahan, dalam satu ceramah Maulid Nabi di Masjid Darul Lu’lu Banjarmasin beberapa tahun lalu, setelah menjalankan semua perintah Allah secara optimal, barulah Nabi Ibrahim mau berdoa, beliau naik ke Jabal Qubais untuk berdoa. Namun isi doanya bukan minta harta atau jabatan. Beliau minta agar anak-keturunannya menjadi saleh dan taat beribadah, agar kota Makkah aman dan damai, agar penduduk dunia menyenangi Kota Makkah, dll. Artinya, beliau tidak berdoa lebih dahulu baru beribadah, tapi beribadah dulu baru berdoa, dan doanya pun tidak materialistic oriented.
Akhirnya Allah pun mengabulkan doa itu. Keturunan Ibrahim dan Ismail banyak menjadi orang yang saleh dan mulia, termasuk Bani Hasyim di mana Nabi Muhammad saw berasal. Tidak hanya itu, melalui istri pertamanya Sarah, Allah SWT mengaruniakan Ibrahim seorang anak lagi, yaitu Nabi Ishaq, saat itu Nabi Ibrahim sudah berusia 99 tahun. Jadi Ismail lebih tua 13 tahun dibanding Ishaq, dan ketika Ismail akan dikorbankan, Ishaq belum lahir. Melalui Ishaq, lahir Nabi Yaqub dan nabi-nabi lainnya di kalangan Bani Israil, seperti Nabi Musa, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya dan Nabi Isa. Di dalam Alquran banyak sekali pujian kepada para nabi ini sebagai orang-orang yang saleh.
Buah dari doa Nabi Ibrahim hingga hari ini kita menyaksikan, jutaan umat Islam dunia mendatangi Haramain (Makkah dan Madinah) untuk berhaji dan umrah. Baik yang berduit maupun tak berduit sama-sama mendambakan datang ke sana. Yang sekali ingin dua kali, yang lima kali masih ingin lagi dan seterusnya. Dan salah satu misteri Haramain, banyak orang tak berduit ternyata juga beruntung bisa berangkat ke tanah suci melalui Tangan Tuhan yang mengetuk hati para pengusaha, dermawan dan pengusaha travel sehingga berkenan memberangkatkan mereka.
Selain ritual haji, banyak aspek syariat Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad juga meneruskan syariat yang sama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, seperti ibadah qurban yang dilaksanakan setiap Idul Adha dan Hari Tasyri’.
Ajaran berkhitan/sunat yang selama ini dilaksanakan oleh umat Islam juga warisan dari Nabi Ibrahim. Sebuah hadits menyatakan, Ibrahim berkhitan pada usia 80 tahun dengan menggunakan kampak. Sesungguhnya Allah berfirman: Kemudian Kami wahyukan kepadamu Muhammad, ikutilah agama Ibrahim yang hanif.
Sebenarnya banyak nabi yang saat lahir sudah dalam keadaan berkhitan, yaitu Adam, Syits, Idris, Nuh, Luth, Yusuf, Musa, Hud, Shaleh, Syuaib, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Muhammad SAW. Namun Nabi Ibrahim tidak termasuk di antaranya, sehingga ketika turun perintah berkhitan, maka beliau mengkhitan kelaminnya sendiri di usia 80 tahun. Dengan begitu, syariat khitan pun kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad dan berlaku secara universal. Tentu banyak kebaikan yang terkandung dari syariat berkhitan, baik dalam pandangan agama, kesehatan, kebersihan dan sebagainya.
Makkah dan Madinah dijamin Allah tetap makmur, aman dan damai, dan jelang hari kiamat nanti hanya dua kota suci ini yang tidak mampu dijangkau oleh Dajjal. Meski Arab Saudi umumnya tandus, tetapi berbagai sayuran dan buah-buahan berdatangan ke sini, bahkan di beberapa tempat seperti Thaif sayuran dan buah-buahan juga tumbuh subur.
Tak hanya itu di bawah bumi Arab Saudi juga tersedia deposit minyak yang sangat besar, sehingga makin menjadikan negara ini kaya, dan kekayaannya pun banyak disumbangkan untuk negara-negara lain. Banyak sekali tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia mencari rezeki di sini. Meski banyak yang bermasalah, namun lebih banyak lagi yang beroleh kesuksesan, buktinya orang tak pernah jera ke sana. Wallahu A’lam.













