Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mengenang Musibah Haji Banjar di Colombo

×

Mengenang Musibah Haji Banjar di Colombo

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “Sejarah Urang Banjar Tulak Haji dan Gambaran Kota Suci”

Pesawat DC 8/mendapat kecelakaan/di dalam perjalanan/jemaah haji korban/ menyedihkan, menyedihkan/dunia turut bersedih menerima kejadian.

Kalimantan Post

Hampir setengah abad, tepatnya 48 tahun lalu, terjadi musibah perjalanan haji yang menimpa jemaah haji asal Banjar Kalsel. Tulisan ini sebagai refleksi sejenak akan peristiwa itu.

Kalimat di atas adalah penggalan lagu qasidah yang populer di akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Lagu ini berangkat dari musibah kecelakaan pesawat yang membawa jemaah haji Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan, yang terjadi pada tanggal 15 November 1978. Pesawat tersebut adalah jenis DC-8 Long Body milik Loftleader Icelandic Airways Islandia, sebuah pesawat milik maskapai penerbangan asing yang disewa oleh pemerintah Indonesia untuk mengangkut jemaah haji dari embarkasi haji bandara Juanda Surabaya ke bandara King Abdul Aziz Jeddah, pergi dan pulang.

Pesawat tersebut jatuh di wilayah Katunayake, sekitar 25 km sebelah utara Colombo, ibukota Srilangka. Rencananya pesawat akan transit di bandara Bandaranaike International Airport Colombo untuk mengisi bahan bakar. Bandaranaike, adalah nama Perdana Menteri perempuan terkenal dari Srilangka, yang bernama lengkap Srimavo Bandaranaike.

Sebelumnya pada 4 Desember tahun 1974, juga terjadi kecelakaan pesawat Martin Air, yang konon menabrak gunung Adam di Srilangka, yang menewaskan 182 jemaah haji dan awak pesawat, yang ketika itu sedang berangkat dari bandara Juanda Surabaya menuju Jeddah untuk melaksanakan ibadah haji. Gunung Adam atau disebut juga Sapta Kanya dianggap suci oleh pemeluk agama Islam, Hindu dan Budha setempat, karena dipercaya di situlah dulu Allah swt menurunkan Nabi Adam dari sorga, sedangkan istrinya diturunkan di Jeddah. Setelah terpisah 300 tahun mereka bertemu di Jabal Rahmah Makkah.

Terburuk

Peristiwa ini boleh dikatakan merupakan kecelakaan pesawat terburuk dalam penyelenggaraan ibadah haji selama ini. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1978 tersebut, menewaskan 175 orang jemaah haji asal Kalimantan Selatan, sementara korban yang selamat sebanyak 76 orang. Di antara korban yang tewas tercatat Bupati Tabalong H. Badaruddin Kasim BA dan istrinya, serta keluarga Sjachriel Darham (mantan Gubernur Kalsel). Sedangkan korban yang selamat diantaranya KH Tabrani Basri, H Mas Abikarsa, H. Mohammad Syahriel dan lain-lain. Ketika itu pesawat mengangkut 249 jemaah haji yang sudah selesai menunaikan ibadahnya, ditambah dengan 13 orang awak pesawat.

Pesawat tinggal landas dari Jeddah menuju Surabaya, kemudian singgah untuk transit mengisi bahan bakar di Colombo, dan di sinilah kecelakaan terjadi. Di tempat jatuhnya pesawat tersebut kemudian didirikan sebuah masjid sebagai monumen jatuhnya pesawat haji asal Indonesia, juga ada madrasah bernama Seylon International School, dan di depannya terpasang papan nama Indonesian Haj Memorial Building. Semua gedung tersebut dibangun oleh Pemerintah RI atas sumbangan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), dan pengelolaannya dilakukan oleh Islamic Center Srilangka.

Penduduk Srilangka kebanyakan (74%) beragama Budha, mereka merupakan etnis mayoritas Sinhala, kemudian yang beragama Hindu merupakan etnis Tamil Srilangka (13%) dan Tamil India (6%). Namun banyak juga yang beragama Islam yaitu 7%, mereka ini sering disebut dengan Moor Srilangka. Dulu pihak Barat sering menyebut orang muslim yang mereka temui di wilayah Timur dengan sebutan Moor atau Moro. Di masa lalu Srilangka pernah dikuasai oleh Portugis, kemudian Belanda dan Inggris. Salah seorang pejuang Banjar yaitu Pangeran Amir, kakek Pangeran Antasari, dibuang oleh Belanda ke sini tahun 1787. Begitu juga pahlawan dalam Perang Banten asal Makasar yaitu Syekh Yusuf al-Makassari, setelah ditangkap Belanda dibuang ke Srilangka, kemudian ke Afrika Selatan hingga wafat di sana.

Baca Juga :  Muharam, Momentum Hijrah

Presiden Srilangka saat itu, Jeyewerdhane, memerintahkan agar dilakukan penelitian mengapa kecelakaan dahsyat itu terjadi. Para tokoh oposisi di negara tersebut menuduh hal itu terjadi karena fasilitas bandara kurang memadai, misalnya lampu-lampu di landasan tidak menyala, sehingga menyulitkan bagi pesawat yang akan take off dan landing. Sebagai tindak lanjut, bandara kemudian diperbaiki atas bantuan pemerintah Kanada.

Tetapi bagi para penumpang selamat, selain alasan di atas, mereka juga melihat dan merasakan bahwa pesawat yang disewa oleh pemerintah melalui Maskapai Garuda ini sudah tergolong tua, sehingga sebenarnya tidak layak lagi sebagai pesawat angkut jemaah haji. Saat itu biaya naik haji Rp 766.000 atau senilai 3 ons emas, sehingga cukup banyak warga masyarakat yang mampu berhaji tanpa harus daftar tunggu seperti sekarang. Pada tahun 1978 tersebut pemerintah memberangkatkan 72.941 jemaah dengan 686 petugas dari 27 provinsi, dengan 250 kali penerbangan pergi dan pulang. Karena pesawat pemerintah terbatas, maka Garuda menyewa pesawat dari negara lain.

Penyebab lainnya, pilot salah dalam melakukan landing, dan cuaca saat itu sedang buruk, sehingga pilot kesulitan mengendalikan pesawat. Kondisi pesawat juga agak tua. Sejak terbang dari Jeddah sudah ada getaran yang mencurigakan, namun tidak diperdulikan, mungkin dianggap hal biasa. Juga tekanan udara di pesawat tidak bisa dinetralkan, sehingga telinga penumpang menjadi pekak oleh deru mesin pesawat.

Tatangar

Penumpang yang selamat dan luka-luka dirawat di rumah sakit (General Hospital) Colombo, dan juga di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Presiden Soeharto bersama Ibu Tien berkenan menjenguk para korban di rumah sakit. Seluruh penumpang pesawat yang tewas kemudian diterbangkan dengan pesawat Hercules milik TNI AU, membawa 111 peti jenazah berisi 173 korban, namun hanya 37 korban yang dikenali identitasnya. Ketika itu Menteri Agama RI yang memimpin upacara pemakaman adalah Alamsyah Ratuperwiranegara, sedangkan Gubernur Kalsel adalah Soebardjo Surosarojo. Kemudian dilakukan pemakaman secara massal, yang lokasi makamnya disiapkan oleh PT Dewata Utama pimpinan Muhammad Ramlan yang mendapatkan rekomendasi dari Kodam X Lambung Mangkurat. Lokasi pemakaman itu kemudian dinamai dengan Makam Syuhada Haji, berdampingan dengan makam pahlawan Bumi Kencana dan makam Taman Bahagia, tidak jauh dari Syamsudin Noor International Airport Banjarbaru.

Baca Juga :  Gaza Terus Dibombardir Dan Diblokade, Saatnya Umat Memikirkan Perlindungan Nyata

Ketika kejadian ini, penulis masih bersekolah di Kelua-Tabalong. Sebelum menjalankan ibadah haji, Bupati Tabalong H Badaruddin Kasim BA memimpin kegiatan amal dan menegakkan tiang guru Masjid Jami’ Al-Muttaqin di kampung kami Pasintik-Bahungin Kelua. Beliau berhadir bersama istri dan sejumlah pejabat pemerintah kabupaten saat itu, sehingga suasana menjadi ramai dan masyarakat sangat senang. Tidak lama kemudian penulis dan masyarakat mendengar bahwa beliau berangkat haji dan saat pulang terjadilah kecelakaan yang menewaskan beliau bersama istri dan sejumlah penumpang lainnya.

Masyarakat sangat terkejut, karena beliau seorang bupati yang religius, baik dan disenangi. Konon beliau pernah pula memberi aba-aba kepada supirnya, yang bagi orang Banjar mungkin biasa disebut firasat atau tatangar. Ketika pergi atau pulang urusan dinas ke Banjarmasin, beliau mengatakan bahwa beliau nanti berkubur di Banjarbaru, sambil menunjuk ke arah lokasi makam, yang ketika itu baru ada Makam Pahlawan Bumi Kencana dan Makam Taman Bahagia. Ternyata, dengan kecelakaan itu jelaslah bahwa beliau memang bermakam di situ bersama istrinya Nurhani binti H. Jahri. Saat itu Badaruddin baru berusia 43 tahun, sedangkan istrinya 32 tahun. Kalau dilihat daftar penumpang yang tewas, mereka berusia antara 14 sampai 67 tahun. Di antara korban selamat yaitu KH Tabrani Basri saat itu berusia 39 tahun, dan istrinya Hj Rasyidah binti H Juhri berusia 34 tahun. Beliau baru meninggal 2025 lalu.

Tentu panjang cerita sekitar tragedi kecelakaan pesawat haji yang menimpa jemaah haji asal Kalimantan Selatan ini. Terutama kenangan para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dalam musibah tersebut. Untuk itu wartawan senior Thamrin Yunus, adik pendiri BPost HJ Djok Mentaya, telah menyusun sebuah buku berjudul “Syuhada Haji Colombo Sebuah Memoar 1978”. Pembaca dapat mendalami kisahnya melalui buku tersebut.

Bagi keluarga Sjachriel Darham (alm), peristiwa tersebut juga merupakan musibah berat. Gubernur Kalsel periode 2000-2005 ini pada saat kejadian sedang menjabat Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Kalimantan Selatan, kehilangan tiga orang anggota keluarganya sekaligus, yaitu ayahnya H. Anang Darham, ibunya Hj. Ratna dan adiknya Hj. Fatimah, yang ketiganya dimakamkan di Makam Syuhada Haji. Meskipun berat namun Sjachriel Darham mengikhlaskan kepergian keluarga yang disayanginya. Untuk mengenang mereka, Sjachriel Darham membangun sebuah langgar di kampung keluarga dan kelahirannya, Kebun Sari Amuntai.

Makam Syuhada Haji yang terletak di Kota Banjarbaru mungkin satu-satunya makam syuhada haji di Indonesia yang bersifat massal. Di masa-masa awal banyak masyarakat domestik dan pendatang yang mengunjungi makam ini.

Terjadinya kecelakaan dan meninggalnya jemaah haji, baik sewaktu berangkat, saat di tanah suci, maupun saat pulang, tentu kita berharap semua mereka dianggap sudah menunaikan ibadah haji dan ibadah hajinya diterima sebagai haji yang mabrur, yang tidak ada balasan lain kecuali surga. Amin.

Iklan
Iklan