Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Membangun Kemampuan Sosial Anak

×

Membangun Kemampuan Sosial Anak

Sebarkan artikel ini

Oleh : MHD Natsir
Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang

Proses belajar daring yang dijalankan selama pandemi telah mengakibatkan penurunan kemampuan belajar anak dalam berbagai bidang. Pembelajaran daring dirasakan kurang efektif mengasah potensi yang dimiliki anak. Proses belajar terkesan terlalu terpusat pada kemampuan kognitif dan mengabaikan . Mungkin saja kemampuan kognitifnya meningkat, tetapi hasil akhir yang diharapkan dari pembelajaran bukan sekedar peningkatan kemampuan kognitif. Tetapi kemampuan sosial anak harusnya juga menjadi perhatian yang tidak kalah pentingnya.

Kalimantan Post

Selama pembelajaran daring, interaksi antara anak dengan teman-temannya sangat minim sekali. Masing-masing belajar di rumah dengan atau tanpa bimbingan orang tua. Upaya guru mendorong anak didiknya untuk berinteraksi dengan teman-temannya melalui aplikasi virtual seperti Zoom Meeting, Google Meet dan sebagainya tidak sepenuhnya berhasil. Interaksi virtual yang dibangun tidak bisa menjadi solusi guna mendekatkan mereka secara sosial. Padahal kemampuan sosial anak tetap harus menjadi perhatian dalam proses perkembangannya. Menjadi penyeimbang terhadap kemampuan kognitif yang dimiliki anak.

Sebenarnya manusia sejak dilahirkan belum memiliki sifat sosial. Artinya setiap anak yang baru lahir belum memiliki kemampuan untuk bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Agar tercapai kematangan sosialnya, maka anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri untuk bisa hidup bersama orang lain. Dalam hal ini, lingkungan keluarga memiliki peran yang penting untuk membantu anak mengembangkan kemampuan sosialnya. Keluarga menjadi titik awal pendidikan dan melatih kematangan anak. Melalui keluargalah anak belajar melakukan sesuatu sebagai hasil dari interaksinya dengan anggota keluarga. Seperti makan, minum, berpakaian, berbicara, sopan santun, dan sebagainya sesuai perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri.

Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak dalam menumbuhkan sikap peduli terhadap orang lain. Apabila masa kecilnya mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan dari lingkungannya, maka anak tersebut cenderung berperilaku anti sosial. Begitu juga sebaliknya, apabila anak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam berhubungan dengan lingkungannya, maka anak tersebut cenderung berperilaku peduli dengan lingkungan sekitarnya. Karena biasanya pendidikan dalam keluarga lebih bersifat alamiah, dan lebih bersifat emosional. Oleh sebab itu, keluarga harus mengambil peran yang lebih besar dalam meningkatkan kemampuan sosial anak.

Baca Juga :  Board of Peace, Kemasan Baru Perdamaian

Selama pembelajaran daring perkembangan sosial anak kurang mendapat perhatian. Terkadang dalam proses belajar daring, anak tidak memiliki keberanian untuk bertanya tentang materi atau soal yang belum mereka pahami. Perasaan takut salah, belum tahu mau berbicara apa, malu kepada guru dan teman-temannya. Bahkan mereka sudah merasa takut dengan orang yang pernah mereka kenal sebelumnya.

Untuk itu perlu adanya upaya yang seharusnya dilakukan orangtua dalam menjaga kemampuan sosial anaknya. Karena tidaklah mungkin para orangtua terlalu berharap dari guru di sekolah, Terlebih lagi dalam kondisi yang belum sepenuhnya kondusif seperti saat ini. Keterbatasan yang dimiliki guru menjadi kendala tersendiri bagi mereka untuk memberikan bimbingan dan arahan yang lebih baik lagi.

Ada beberapa point yang perlu dijadikan perhatian untuk membangun kemampuan sosial anak. Pertama, mengelola suasana rumah agar tetap terasa nyaman bagi anak. Membangun komunikasi dan interaksi yang baik dalam keluarga akan memberikan efek yang baik bagi anak dalam menjalani proses belajarnya di rumah.

Kedua, adanya pendampingan dari orang tua selama anak menjalani proses belajarnya. Mengarahkan anak untuk peduli kepada proses belajarnya. Memperhatikan penjelasan guru dan mencoba menyapa teman-teman yang hadir dalam pembelajaran daring adalah salah satu cara terbaik saat ini untuk mengikat emosional mereka dengan teman-teman yang lainnya.

Ketiga, memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan diri, Mengenalkan dan mengarahkan anak pada adat kebiasaan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitarnya. Mengembangkan sikap seperti ini pada diri anak akan membiasakannya untuk selalu berperilaku baik hingga dewasa. Mengenali lingkungan sosialnya dan melatih anak untuk bisa peduli dengan lingkungannya. Keempat, melibatkan anak dalam berbagai aktivitas dalam keluarga. Memberikan mereka tanggung jawab untuk menyelesaikan satu pekerjaan merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan agar anak tidak hanya fokus dengan gadget dan sibuk media sosialnya. Tetapi juga bisa berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga yang lain.

Baca Juga :  KEKERASAN DAN CHILD GROOMING

Kemampuan sosial haruslah ditanamkan pada anak sejak usia dini. Rasa peduli dan menjadi bagian dari lingkungannya adalah perilaku yang seharusnya dimiliki anak selain kemampuan kognitif. Hal ini untuk memperkuat eksistensi dirinya sebagai manusia yang harus hidup bersama dengan orang lain. Pandemi bukanlah alasan untuk lengah dan lalai dalam membelajarkan dan membangun kemampuan sosial anak. Agar ketika dewasa nanti, mereka bisa menjadi bagian dari pribadi yang bisa memberikan manfaat kepada dirinya dan lingkungan di sekitarnya.

Semoga saja pandemi ini segera berakhir, sehingga anak bisa berinteraksi bebas dengan teman-temannya di mana saja. Tertawa gembira dan berlarian bersama, berkelahi dan damai lagi, adalah bagian dari proses belajar mereka dalam penguatan kemampuan sosialnya. Apabila memang sekolah di beberapa daerah bisa dibuka dengan tetap patuh pada protokol kesehatan, maka ini akan lebih memudahkan proses untuk membangun kemampuan sosial anak menuju dewasa dalam pengertian yang sesungguhnya. Cerdas otaknya, baik perilakunya dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Iklan
Iklan