Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Anak Berhadapan Dengan Hukum, Salah Siapa?

×

Anak Berhadapan Dengan Hukum, Salah Siapa?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ummu Wildan
Pemerhati Anak

Pilu, miris, marah berkecamuk di benak ketika mengetahui berita anak-anak melakukan tindak kriminal kepada sesama. Apalagi tindakan yang amat keji kepada anak yang jauh lebih kecil lagi.

Seorang ABG 14 tahun di Sukabumi menjadi terkenal akibat dugaan kejahatan yang dilakukannya. Ia menjadi salah satu anak berhadapan dengan hukum (ABH) setelah menjadi  tersangka sodomi dan pembunuhan kepada bocah usia 7 tahun. Kejahatan yang di luar nalar yang mungkin dilakukan seorang anak. 

Data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham menyebutkan adanya peningkatan angka ABH pada periode 2020 hingga 2023. Per 26 Agustus 2023, tercatat hampir 2.000 anak berkonflik dengan hukum. Sebanyak 1.467 anak di antaranya berstatus tahanan dan masih menjalani proses peradilan, sementara 526 anak sedang menjalani hukuman sebagai narapidana (Kompas.com/ diakses 16/05/2024).

Ada beberapa faktor yang turut memicu tingginya kasus ABH. Pertama, peran orang tua sebagai sekolah pertama anak. Indonesia sering kali disebut sebagai fatherless nation. Negara dengan kuantitas dan kualitas kebersamaan ayah dengan anak sangat minim. Tak sedikit ayah yang hanya memandang peran penting dirinya sebagai pencari nafkah. Jatuh bangun dirinya untuk menjadi mesin ATM bagi anak-anak. Padahal anak-anak juga memerlukan kedekatan psikologis dan pendidikan dari ayah mereka. 

Di sisi lain, peran perempuan sebagai ibu pun kurang maksimal bahkan cenderung didegradasi. Tak jarang orang-orang menjadi ibu semata karena lhalmil dan melahirkan. Sedikit yang membekali diri dengan ilmu sebelum menjadi orang tua. Hatta yang mau belajar parenting saat sudah menjadi orang tua pun tak seberapa. Mendidik anak pun bagi sebagian orang tua seperti air yang mengalir apa adanya saja. 

Baca Juga:  Membangun Ketahanan Keluarga di Tengah Wabah Corona

Perempuan yang menjalankan tugas domestik sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga pun sering dipandang rendah. Disejajarkan dengan baby sitter dan pembantu, begitulah mereka. Padahal 1.000 hari pertama kehidupan amat penting bagi fase selanjutnya kehidupan anak manusia. Perempuan terdidik akan sangat berpengaruh dalam pembentukan generasi emas. 

Sayangnya perempuan yang sarjana namun jadi ibu rumah tangga dianggap menyia-nyiakan pendidikan. Perempuan yang bekerja justru sering kali mendapatkan sanjungan lebih. Padahal anak-anak tidak hanya memerlukan kelihaian para penjaga tempat-tempat penitipan anak. Anak-anak memerlukan kelekatan dengan perempuan yang telah membersamai mereka sejak kehidupan itu terbentuk bagi mereka. Namun kesulitan ekonomi tak jarang memaksa para ibu menahan perih hatinya berpisah dengan buah hati. 

Alhasil anak-anak yang jauh dari ayah ibunya berpeluang menjadi anak-anak yang lapar kasih sayang; anak-anak yang keras hati. Menyakiti orang lain bisa jadi dipandang tidak seberapa oleh bisik hati mereka dibanding memuaskan keinginan oleh jiwa yang hampa. 

Anak-anak yang minim peran keluarga ini pun disambut oleh sistem pendidikan. Sayangnya sistem pendidikan yang ada pun materialistik. Keberhasilan diukur dengan standar materi. Nilai-nilai bagus yang diraih seorang anak sering menjadi tolak ukur si anak berhasil dalam sekolahnya. Keterserapan di jenjang pendidikan selanjutnya maupun keterserapan di dunia kerja menjadi bagian dari penilaian keberhasilan sekolah mendidik. 

Hal berbeda akan terjadi bila perubahan dilakukan dengan standar Islam. Ibu adalah guru pertama anak dan ayah adalah kepala sekolahnya. Al Qur’an sering kali menyebutkan dialog antara ayah dan anak. Ada dialog antara Ibrahim dan Ismail. Ada pula dialog antara Lukman dan anaknya. Demikianlah Allah menekankan pentingnya peran ayah dalam membentuk generasi emas. 

Baca Juga:  Ketahanan Keluarga Pondasi Kekuatan Generasi

Perempuan yang menjalani peran sebagai ibu pun tak dipandang sebelah mata. Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw memanglah seorang pengusaha. Namun Fatimah binti Muhammad, anak mereka, adalah ibu rumah tangga biasa. Mereka sama-sama menjadi perempuan yang dimuliakan. 

Perempuan yang hamil dan menyusui anaknya mendapatkan pahala berjihad. Surga pun berada di telapak kaki perempuan atas perannya sebagai ibu. Demikian mulianya peran ibu dalam Islam. 

Pun sistem pendidikan yang menjadi agama sebagai standar pun tak menjadikan materi sebagai tolak ukur keberhasilan. Tujuan utama pendidikannya adalah menghasilkan generasi yang berkepribadian Islami.

Tak hanya pandai dalam sains dan teknologi, namun juga menjadikan ridha Ilahi sebagai panduan. Pendidikan yang berkualitas ini pun mendapatkan dukungan penuh dari negara. Pendidikan murah bahkan gratis bisa didapatkan oleh rakyat dengan bagaimanapun taraf hidup mereka. 

Hal ini seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Ketika menang di Perang Badar, banyak tawaran yang beliau dapatkan. Diantara pilihan tebusan untuk kebebasan tawanan adalah para tawanan tersebut mengajarkan baca tulis pada penduduk Madinah yang kala itu dipimpin oleh Rasulullah SAW. Demikianlah Islam akan berperan mencegah maraknya kasus ABH. Rahmat bagi semesta akan terwujud sesuai surat cinta Allah bagi hamba-Nya. 

Iklan
Iklan