Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

SIAPA PERTAMA BERHAJI?

×

SIAPA PERTAMA BERHAJI?

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Ada informasi sejarah mengatakan bahwa orang Nusantara yang pertama sekali berhaji bernama Dharmawangsa, ia berasal dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Pada tahun 674 M, Dharmawangsa melakukan perjalanan ke Makkah khusus untuk menunaikan ibadah haji, kemudian diikuti oleh orang-orang Nusantara lainnya pada beberapa dekade berikutnya. Mereka naik kapal pedagang Arab-Muslim yang sudah berlalu lalang di Nusantara sambil menyebarkan agama Islam. (Marni Lestarina, Kompasiana, 16 Juni 2023).

Kalimantan Post

Informasi yang lebih terkenal adalah adalah berhajinya seorang tokoh dari Sunda. Menurut catatan sejarah, orang Nusantara yang bertama kali berhaji adalah Bratalegawa. Ia adalah putra Raja Galuh, Mangkubumi Suradipati (Prabu Bunisora) yang juga dikenal dengan gelar Kuda Lalean. Kerajaan Galuh berada di Ciamis Jawa Barat, berkuasa pada tahun Saka 1272 atau 1300-an M. Sebagai anak raja ia tidak tertarik kepada kekuasaan, tapi memilih menjadi pedagang antarbenua dan negara. Ia mampu berlayar hingga ke pulau Sumatra, Malaka, China, Champa, India, Srilangka, Persia, dan Semenanjung Arabia.

Ketika tiba di Gujarat, ia menikahi perempuan India bernama Farhana, putri seorang saudagar kaya beragama Islam. Bersama istri ia menuju Arab dan menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu dan berganti nama dengan Haji Baharuddin al-Jawi. Ketika itu diperkirakan tahun 1350-an. Sepulang ke tanah air ia dipanggil masyarakatnya Haji Purwa Galuh. (Devi Setya, detikHikmah, 18 Mei 2024).

Informasi senada menyatakan bahwa Bratalegawa adalah sepupu Prabu Niskala Wastu Kencana, kakek Raden Pamanah Rasa yang bergelar Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja Padjadjaran atau Prabu Siliwangi. Ketika berada di Gujarat ia bersahabat dengan saudagar kaya bernama Muhammad dan kemudian masuk Islam dan kawin dengan Farhana putri Muhammad, dan melahirkan Ahmad. Setelah berhaji dan belajar agama, ia pulang ke tanah air bersama Farhana dan anaknya Ahmad untuk berdakwah. Kerabat dan masyarakatnya yang masih beragama Hindu dan Sunda Wiwitan sangat gembira menyambut kedatangannya, mereka pun masuk Islam. Ia aktif berdakwah hingga akhir hayatnya. (detikX, 21 Juli 2021).

Baca Juga :  Berhaji Jalan Kaki dan Bersepeda

Secara umum, muslim Nusantara sudah mulai berhaji seiring dengan berdirinya kesultanan-kesultanan di Nusantara. Lewis Berthema (Ludivico Varthema) seorang orientalis asal Italia yang menyamar sebagai muslim melakukan perjalanan haji tahun 1503 M, menyatakan bahwa dalam kunjungannya ke Makkah sudah ditemukan begitu banyak orang Nusantara yang berhaji di tanah suci. Mereka disebutnya orang yang berasal dari Lesser East Indies (India Timur Kecil), yang tidak lain adalah Nusantara.

Peneliti rempeh-rempah asal Portugis, Diego Lopesde Sequire melihat orang-orang Nusantara yang menumpang kapal-kapal dagang dari Jawa, Malaka, Aceh dan Madagaskar menuju Jeddah sudah sejak tahun 1508-1534. Mereka tidak mengkhususkan niatnya untuk berhaji melainkan berdagang, lalu pada musim haji mereka singgah di Semenanjung Arabia untuk berhaji.

Kesaksian ini menunjukkan bahwa saat itu orang-orang Nusantara sudah banyak yang berhaji, kemungkinan mereka berasal dari Samudra Pasai, Aceh, Malaka dan juga Jawa yang lebih dahulu menganut Islam. Dari Banjar mungkin belum ada saat itu, sebab tidak ditemukan informasi yang dapat dijadikan rujukan. Bersamaan dengan itu para sultan dari Kekhalifahan Turki Utsmani yang sedang bertumbuh pesat, juga mengklaim dirinya sebagai Khadimul Haramain (Pelindung Dua Kota Suci), tak hanya untuk muslim yang berada di dalam wilayah kekuasaannya, tetapi juga untuk seluruh dunia. Sultan Salim I (1512-1520) misalnya menyebut dirinya Khalifatullah fi Thulil Ardhi wa Ardhiha, artinya Khalifah Allah di seluruh muka bumi. (Herdiansyah, 2018: 60).

Sumber-sumber tradisional Jawa menceritakan, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati pada tahun 1521 telah berkunjung ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak hanya berhaji, beliau juga mengemban misi diplomatik. De Graaf dan Pigeaud menyatakan bahwa Sunan Gunung Jati ketika itu mengusulkan kepada Syarif Makkah agar mengakui Trenggono sebagai Sultan Demak. Kemudian Sunan Gunung Jati atas persetujuan Syarif Makkah memberikan gelar sultan untuk Trenggono dan menyuruh sultan agar menjadi raja Islam yang sebenarnya. Saat itu Makkah dan Madinah memang sudah berada dalam kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani, dan Syarif Makkah adalah perwakilan Utsmani. (Media Umat, edisi 323, 4-7 November 2022: 22)

Baca Juga :  Dibalik Operasi Antik Intan

Memang ketika itu para sultan Nusantara umumnya diberi gelar sebagai Sultan oleh para Sultan (Khalifah) di Kekhalifahan Turki Usmani melalui Syarif Makkah. Hal ini ditemui di kalangan para sultan di Kesultanan Aceh, Kesultanan Demak, Kesultanan Banten, Kesultanan Mataram dan sebagainya. Keadaan tersebut tetap berlanjut ketika para sultan Nusantara sudah berhadapan dengan penjajah Portugis dan Belanda, sehingga kepergian para sultan untuk berhaji menjadi terhalang, dan terpaksa didelegasikan kepada orang lain untuk berhaji atas nama sultan. Para delegasi ini selain berhaji juga melobi penguasa Turki Utsmani agar mengirimkan bantuan militernya guna menghadapi armada Portugis dan Belanda yang sudah bersileweran di lautan Hindia, yang berpotensi mengganggu perjalanan dagang dan juga haji Nusantara.

Iklan
Iklan