Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Bantuan Herbal untuk Pasien Covid-19

Bantuan Herbal untuk Pasien Covid-19

Tanah Laut

Pelaihari, KP – Pemerintah Kabupaten Tanah Laut (Tala) melalui Bupati H Sukamta kembali mendapat bantuan untuk warga yang dinyatakan terkonfirmasi…

PDP Covid-19 Kembali Berpulang

PDP Covid-19 Kembali Berpulang

Tanah Laut

Pelaihari, KP – Kabar Duka Cita kembali teriring atas meninggalnya salah satu Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 di Kabupaten Tanah…

Persiapan Pilkada Tala Aman

Persiapan Pilkada Tala Aman

Politika

Pelaihari, KP – Persiapan pelaksanaan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 mendatang di Kabupaten Tanah Laut relatif aman, tanpa terkendala,…

Kerusakan Alam Sebabkan Banjir Tanah Laut

Kerusakan Alam Sebabkan Banjir Tanah Laut

Tanah Laut

Pelaihari, KP – Eksploitasi sumber daya alam dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan lingkungan, sehingga tidak mampu menampung luapan air saat hujan turun, sehingga menimbulkan banjir besar di Kabupaten Tanah Laut.

“Kerusakan lingkungan menyebabkan sungai tidak mampu lagi menahan guyuran hujan, sehingga menyebabkan banjir,” kata Ketua Komisi II DPRD Kalsel, Imam Suprastowo yang dihubungi wartawan, Selasa (14/7/2020), di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

Menurut Imam Suprastowo, banjir kali ini adalah yang terparah dalam 38 tahun terakhir, karena merendam sebanyak 1.349 unit tempat tinggal warga, yang dihuni 1.535 kepala keluarga atau 5.112 jiwa.

Selain itu, juga merusak beragam fasilitas umum dan tempat tinggal warga, dampak banjir beberapa hari terakhir mengakibatkan perekonomian masyarakat sempat lumpuh.

“Bencana ini terjadi akibat cuaca ekstrim, dan tingginya intensitas hujan sejak Sabtu pekan lalu,” ujar politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.

Imam Suprastowo mengungkapkan, sebetulnya banjir ini disebabkan kondisi alam yang banyak gundul, baik akibat penebangan hutan maupun pertambangan, sehingga tidak mampu menyerap air hujan.

“Jadi hujan sedikit saja sudah menyebabkan banjir, apalagi cuaca ekstrim seperti sekarang,” ujar Imam Suprastowo yang meninjau lokasi banjir di Desa Bumi Jaya, Kecamatan Pelaihari.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan normalisasi sungai berskala besar, agar limpahan curah hujan bisa mengalir ke sungai, tanpa meluap dan mengenangi pemukiman warga.

“Normalisasi sungai berskala besar pernah dilakukan 10 tahun lalu, dan kini memerlukan normalisasi secara menyeluruh agar tidak menyebabkan banjir,” tambah wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalsel VII, meliputi Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarbaru.

Idealnya, sudah saatnya normalisasi sungai besar-besaran segera dikerjakan, mengantisipasi bencana seperti yang menimpa ribuan warga sekarang ini, namun ini memakan biaya yang sangat besar.

“Bagaimanapun kita sudah menikmati pendapatan dari hasil hutan dan tambang, sehingga kini merasakan dampak kerusakan tersebut dengan bencana banjir,” ujar Imam Suprastowo.

Bahkan, DPRD Kalsel merencanakan untuk mengusulkan normalisasi sungai ini, namun dilakukan bersama-sama, baik pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten.

“Karena biayanya cukup besar, bahkan bisa lebih dari Rp100 miliar lebih untuk melakukan revitalisasi dan normalisasi sungai,” tambahnya. (lyn/KPO-1)

Bupati Sampaikan LPP APBD Tahun 2019

Bupati Sampaikan LPP APBD Tahun 2019

Tanah Laut

Pelaihari, KP – Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan (LPP) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah bagian tidak terpisahkan dari sebuah manajemen…

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.

Iklan